dalane waskita saka niteni
Kegiatan ini mengandalkan rasa. Karena mengandalkan rasa pasti berbeda antara satu orang dengan orang lainnya dalam memaknai sesuatu. Sangat personal sifatnya.
Saya pernah membaca bila hidup tidak dimaknai, apa bedanya hidup kita dengan sebuah garis statis, sekedar hidup. Niteni adalah salah satu jalannya.
Salah seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya berdana. Kawan ini kebetulan suka berdana pada orang-orang yang ditemuinya di jalanan.
Menurutnya, biasanya ia bertemu orang yang sama di beberapa tempat/lokasi yang berbeda hingga tiga kali. Tidak lebih.
Bila lebih dari tiga kali, dan ia berharap bertemu seringnya orang tersebut seperti menguap entah kemana.
Awalnya ia tidak terlalu menganggapnya, hanya kebetulan semata, namun karena sering berulang timbul pertanyaan dalam hati kecilnya.
Apa maksud dari semuanya ini. Apa maksud Tuhan?
Mulailah ia mengamati bila peristiwa seperti itu terulang lagi. Akhirnya setelah perenungan ia mulai menarik kesimpulan bahwa orang yang bertemu itu memerlukan uluran tangan bukan tanpa tujuan.
Saya bertanya padanya apakah tidak takut ditipu bila ternyata orang tersebut tidak seperti yang kita duga. Ia hanya tersenyum dan kemudian bilang bahwa ia tidak peduli hal itu.
Ia juga menambahkan sebetulnya hal seperti itu banyak disekitar kita hanya memerlukan halusnya rasa membaca pertanda dan mau atau tidak mengikuti suaranya.
Mudik lebaran tahun lalu, saya juga diperkenankan untuk menemui hal yang mirip, mesti tidak sama. Saya mengalami, menyaksikan, mengamati, merenungkan dan akhirnya mengambil keputusan dalam situasi tersebut.
Seperti biasa kalau mudik lebaran saya jarang mengambil cuti. Saya lebih suka menggunakan angkutan umum dari dan ke bandara dari rumah ortu.
Karena berbarengan dan arus balik ya tentu mendapatkan tempat di angkutan umum bukan hal yang mudah. Seringkali berdiri menjadi semacam keharusan.
Karena hal tersebut saya putuskan pulang awal walaupun jadwal penerbangan pesawat saya baru besok sorenya. Dengan konpensasi harus bermalam semalam di Surabaya.
Saat menunggu angkutan umum dipinggir jalan raya, saya lihat banyak penumpang bus baik yang reguler ataupun patas berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Padahal saat itu dua hari sebelum hari masuk kerja, angkutan umum sudah begitu padat penumpang.
Untung ada angkutan umum (L-300) yang sebetulnya bukan trayek ke Surabaya yang menawarkan jasa mengantar hingga terminal Bungurasih dengan harga miring. Saya yang terbiasa hati-hati agak curiga, namun setelah hati saya bilang aman saya ikut juga.
Harga bukan masalah saat itu bagi saya, yang penting aman dan dapat tempat duduk.
Sepanjang jalan menuju Surabaya angkutan itu penuh juga. Karena banyak orang yang tidak terangkut di pinggir jalan.
Hanya ada yang mengusik batin saya saat ada tiga penumpang yang naik dari baypass Mojokerto, apalagi saat itu menjelang magrib. Dari tiga orang itu salah satunya duduk di bangku tambahan pas di depan saya (saat itu posisi duduk saya dibelakang supir dekat jendela).
Temannya dua yang lain duduk sebelah ibu-ibu yang duduk disebelah saya dan satunya lagi duduk di kursi tambahan sampingnya menghadap ke belakang.
Kecurigaan ini timbul karena batin saya membunyikan signal bahaya, dalam batin saya melafalkan ayat kursi. Dalam tas rangsel saya saat itu ada emas batangan hasil tabungan saya selama ini, yang tidak sempat saya titipkan ke bank syariah jadi saya bawa mudik.
Ibu disebelah saya asyik mengobrol dan tertawa. Percakapan juga mewarnai angkutan umum.
Ketiga pria itu turun tak jauh dari ujung bypass Mojokerto. Kemudian sopir angkutan menarik ongkos penumpang yang tersisa.
Saat itulah terjadi sedikit keributan, karena ibu disebelah saya dompet yang disimpannya dalam tas raib. Menurut dia isinya uang sekitar satu juta setengah. Tasnya pun tidak ada bekas sobekan atau sayatan.
Tentu ia kebingungan dan tidak punya uang untuk membayar ongkos. Beberapa penumpang bergumam kasihan, beberapa lain dengar dan mengajak berbincang tentang kronologi kejadian dan ada pula yang tidak peduli.
Sepanjang jalan ke terminal Bungarasih pembahasan peristiwa itu ramai. Saya juga sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dalam diri sendiri.
Mengapa saya melihat peristiwa tersebut? Mengapa saya harus naik angkutan umum dengan ibu yang kecopetan itu? Apa maksud Tuhan dengan ini semua? Apakah ini hanya sebuah kebetulan semata?
Saya teringat cerita teman saya.
Tiba-tiba saja ucapannya seperti jelas terdengar hanya memerlukan halusnya rasa membaca pertanda dan mau atau tidak mengikuti suaranya.
Akhirnya saya putuskan berdana. Saya berikan saat saya turun daerah PLN Taman, ganti angkutan umum karena akan bermalam di Surabaya. Saya tidak pedulikan tatapan penumpang lain.
Saya pernah membaca bila hidup tidak dimaknai, apa bedanya hidup kita dengan sebuah garis statis, sekedar hidup. Niteni adalah salah satu jalannya.
Salah seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya berdana. Kawan ini kebetulan suka berdana pada orang-orang yang ditemuinya di jalanan.
Menurutnya, biasanya ia bertemu orang yang sama di beberapa tempat/lokasi yang berbeda hingga tiga kali. Tidak lebih.
Bila lebih dari tiga kali, dan ia berharap bertemu seringnya orang tersebut seperti menguap entah kemana.
Awalnya ia tidak terlalu menganggapnya, hanya kebetulan semata, namun karena sering berulang timbul pertanyaan dalam hati kecilnya.
Apa maksud dari semuanya ini. Apa maksud Tuhan?
Mulailah ia mengamati bila peristiwa seperti itu terulang lagi. Akhirnya setelah perenungan ia mulai menarik kesimpulan bahwa orang yang bertemu itu memerlukan uluran tangan bukan tanpa tujuan.
Saya bertanya padanya apakah tidak takut ditipu bila ternyata orang tersebut tidak seperti yang kita duga. Ia hanya tersenyum dan kemudian bilang bahwa ia tidak peduli hal itu.
Ia juga menambahkan sebetulnya hal seperti itu banyak disekitar kita hanya memerlukan halusnya rasa membaca pertanda dan mau atau tidak mengikuti suaranya.
Mudik lebaran tahun lalu, saya juga diperkenankan untuk menemui hal yang mirip, mesti tidak sama. Saya mengalami, menyaksikan, mengamati, merenungkan dan akhirnya mengambil keputusan dalam situasi tersebut.
Seperti biasa kalau mudik lebaran saya jarang mengambil cuti. Saya lebih suka menggunakan angkutan umum dari dan ke bandara dari rumah ortu.
Karena berbarengan dan arus balik ya tentu mendapatkan tempat di angkutan umum bukan hal yang mudah. Seringkali berdiri menjadi semacam keharusan.
Karena hal tersebut saya putuskan pulang awal walaupun jadwal penerbangan pesawat saya baru besok sorenya. Dengan konpensasi harus bermalam semalam di Surabaya.
Saat menunggu angkutan umum dipinggir jalan raya, saya lihat banyak penumpang bus baik yang reguler ataupun patas berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Padahal saat itu dua hari sebelum hari masuk kerja, angkutan umum sudah begitu padat penumpang.
Untung ada angkutan umum (L-300) yang sebetulnya bukan trayek ke Surabaya yang menawarkan jasa mengantar hingga terminal Bungurasih dengan harga miring. Saya yang terbiasa hati-hati agak curiga, namun setelah hati saya bilang aman saya ikut juga.
Harga bukan masalah saat itu bagi saya, yang penting aman dan dapat tempat duduk.
Sepanjang jalan menuju Surabaya angkutan itu penuh juga. Karena banyak orang yang tidak terangkut di pinggir jalan.
Hanya ada yang mengusik batin saya saat ada tiga penumpang yang naik dari baypass Mojokerto, apalagi saat itu menjelang magrib. Dari tiga orang itu salah satunya duduk di bangku tambahan pas di depan saya (saat itu posisi duduk saya dibelakang supir dekat jendela).
Temannya dua yang lain duduk sebelah ibu-ibu yang duduk disebelah saya dan satunya lagi duduk di kursi tambahan sampingnya menghadap ke belakang.
Kecurigaan ini timbul karena batin saya membunyikan signal bahaya, dalam batin saya melafalkan ayat kursi. Dalam tas rangsel saya saat itu ada emas batangan hasil tabungan saya selama ini, yang tidak sempat saya titipkan ke bank syariah jadi saya bawa mudik.
Ibu disebelah saya asyik mengobrol dan tertawa. Percakapan juga mewarnai angkutan umum.
Ketiga pria itu turun tak jauh dari ujung bypass Mojokerto. Kemudian sopir angkutan menarik ongkos penumpang yang tersisa.
Saat itulah terjadi sedikit keributan, karena ibu disebelah saya dompet yang disimpannya dalam tas raib. Menurut dia isinya uang sekitar satu juta setengah. Tasnya pun tidak ada bekas sobekan atau sayatan.
Tentu ia kebingungan dan tidak punya uang untuk membayar ongkos. Beberapa penumpang bergumam kasihan, beberapa lain dengar dan mengajak berbincang tentang kronologi kejadian dan ada pula yang tidak peduli.
Sepanjang jalan ke terminal Bungarasih pembahasan peristiwa itu ramai. Saya juga sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dalam diri sendiri.
Mengapa saya melihat peristiwa tersebut? Mengapa saya harus naik angkutan umum dengan ibu yang kecopetan itu? Apa maksud Tuhan dengan ini semua? Apakah ini hanya sebuah kebetulan semata?
Saya teringat cerita teman saya.
Tiba-tiba saja ucapannya seperti jelas terdengar hanya memerlukan halusnya rasa membaca pertanda dan mau atau tidak mengikuti suaranya.
Akhirnya saya putuskan berdana. Saya berikan saat saya turun daerah PLN Taman, ganti angkutan umum karena akan bermalam di Surabaya. Saya tidak pedulikan tatapan penumpang lain.
![]() |
| Bundaran ITS, Surabaya 2016 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar