Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

Jin Hitam dan Satu Permintaan

Di negeri Jin, tinggalah Jin Hitam yang berilmu tinggi. Ia sangat ditakuti karena suka menyakiti sesama jin. Jin Hitam bangga dengan perbuatannya itu.

Semakin lama, ia pun semakin jahat. Penduduk Negeri Jin menjadi resah. Raja Jin akhirnya memerintahkan pengawal kepercayaannya, Jin Putih, untuk menangkap Jin Hitam.

Pertarungan seru antara Jin Putih dan Hitam berlangsung berhari-hari. Mereka berdua ternyata sama-sama sakti.

Untunglah suatu ketika Jin Hitam lengah. Jin Putih berhasil memenjarakannya di dalam sebuah botol. Jin Putih lalu melempar botol itu, sehingga jatuh ke dunia manusia.

Ratusan tahun Jin Hitam terkurung di dalam botol di dunia manusia. Ia kemudian berjanji. Ia akan mengabulkan tiga permintaan dari orang yang membebaskan dirinya dari dalam botol.

Tanpa terasa telah 1000 tahun Jin Hitam menunggu.


Gadis 1, Tarakan 2016

Suatu hari ada seorang anak sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Tanpa sengaja ia menemukan botol tempat Jin Hitam dikurung.

Karena penasaran, si Anak Gembala membuka tutup botol itu. Keluarlah asap hitam dari mulut botol. Pelan-pelan, asap itu berubah bentuk menjadi sosok besar yang hitam.

Anak Gembala sangat terkejut.

"Hahaha, terimakasih, Anak Kecil. Kau telah membebaskan aku, si Jin Hitam yang terkenal sangat jahat dari Negeri Jin! Sekarang sebutkanlah tiga pertanyaan, dan aku akan mengabulkannya," kata Jin Hitam dengan suara berat.

Anak Gembala itu masih terdiam. Rasa kagetnya belum hilang.

"Cepatlah! Sebelum aku berubah pikiran," desak Jin Hitam galak.

"Tadi kau bilag, kau adalah jin yag sangat terkenal jahat?" tanya anak itu berusaha tidak takut.

"Ya, betul! Aku memang terkenal jahat dan kejam di negeri Jin!" jawab Jin Hitam bangga.

"Kalau begitu...aku cuma punya satu permintaan," kata anak itu setelah berpikir beberapa saat. "Aku ingin kau menjadi jin yang baik hati!"

"Itu mudah. Aku akan kabulkan permintaanmu itu," kata Jin Hitam.

Tanpa pikir panjang, Jin Hitam menggunakan ilmu sihirnya untuk memenuhi permintaan Anak Gembala. Jin Hitam lalu menghilang.

Jin Hitam sangat gembira karena kini ia telah bebas. Dalam hati, ia menertawakan kebodohan Anak Gembala.

Diberi tiga kesempatan, anak itu malah hanya meminta satu permintaan. Permintaan yang konyol pula, pikir Jin Hitam.

Ia lalu terbang ke Negeri Jin untuk balas dendam pada Jin Putih.

Setiba di Negeri Jin, Jin Hitam melihat banyak perubahan di negeri itu. Ia juga heran, karena penduduk jin yang berpapasan dengannya tidak tampak ketakutan sama sekali.

Namun ia kemudian teringat, bahwa ia telah lama sekali meninggalkan negeri itu. Jadi tak ada lagi jin yang ingat padanya. Semua telah lupa pada kehebatannya, dan kekejamannya dulu.

Dalam hati, Jin Hitam merasa marah. Kini ia tidak lagi ditakuti.

Ia bahkan tidak dikenal siapa pun. Jin Hitam akhirnya berniat membuat kejahatan lagi. Kebetulan dari arah depan, nampak jin tua sedang memanggul karung berat.

Jin Hitam lalu membaca mantra. Ia menyihir agar karung si jin tua menjadi berkali-kali lipat beratnya.

Ajaib! Yang terjadi malah sebaliknya. Karung itu malah menjadi sangat ringan. Jin tua seolah memanggul segenggam kapas.

"Jin Hitam, terima kasih untuk kebaikannmu!" ucap jin tua yang tahu kalau ini adalah akibat dari sihir Jin Hitam.

Hati Jin Hitam bertambah jengkel. Ia pun semakin sering berbuat jahat.

Namun anehnya, semua sihirnya selalu berubah menjadi sihir baik. Akibatnya, semakin banyak penduduk jin yang memujinya dan menyukainya.

Jin Hitam benar-benar pusing melihat keanehan itu. Akhirnya, pada suatu hari, ia pun teringat pada Anak Gembala dan satu permintaannya yang konyol.

"Ternyata Anak Gembala itu benar-benar cerdik. Anak itu telah mampu mengurung niat jahatku. Ia telah membuat penjara yang jauh lebih kuat daripada penjara yang dibuat oleh Jin Putih," pikir Jin Hitam.

Jin Hitam sadar, ia telah dilkalahkan Anak Gembala tanpa sebuah pertarungan.

Kini di negeri jin, Jin Hitam menjadi terkenal seperti duylu lagi. Namun bukan karena kejahatannya melainkan karena kebaikannya.


Cerita Anak ini pernah di muat di Majalah Anak- Anak Bobo Tahun XXXVI Terbit 02 Oktober 2008 dan Kumpulan Dongeng No.66 Pustaka Ola.

Jumat, 17 Juni 2016

Misteri Hilangnya Sepatu Dini

Niko, Anton, Pram, Dini, Rini dan Sita menghabiskan liburan mereka dengan berkemah Tempatnya di lapangan, di tepi sebuah hutan lindung kecil. Herdy, anjing milik Niko, juga tidak mau ketinggalan.


Hutan lindung itu terletak di desa kakek Niko. Tentu saja tidak ada hewan buas di situ. Ada sungai kecil yang berair jernih mengalir melewati lapangan itu. Hawanya sangat segar dan sejuk.


Anak-anak itu mendirikan dua tenda. Tenda anak laki-laki terletak di pinggir sungai. Tenda anak perempuan, agak ke tengah. Di dekat tepi sungai, terdapat sebuah batu datar yang cukup besar. Anak-anak itu menggunakannya sebagai tempat bertumpu saat melompat ke sungai.


Telah dua hari mereka berkemah di situ. Semuanya aman dan lancar. Akan tetapi pada pagi hari ketiga, terdengar keributan kecil di tenda anak perempuan. Niko, Anton dan Pram bergegas lari ke tenda anak perempuan.


"Ada apa?" tanya Niko


"Sepatuku hilang," kata Dini kebingungan.


"Mungkin kamu lupa. Coba tenang. Diingat-ingat dulu," saran Pram.


"Aku tidak lupa. Kemarin aku taruh di rak sepatu seperti biasa," sahut Dini.


"Benar. Aku dan Sita tadi malam masih melihat sepatu Dini di situ. Disamping sepatu kami," kata Rini. Sita mengangguk membenarkan.


" Berarti...ada pencuri di temapt ini," kata Anton. "Tapi siapa, ya? Dan mengapa hanya sepatu Dini yang diambil?"


Semua anak terlihat tegang. Niko, selaku ketua rombongan, tampak berpikir keras. Dahinya berkerut. "Aku harus dapat memecahkan misteri sepatu Dini," batinnya.


Sayangnya, Herdy tidak pernah dilatih untuk mencari barang hilang. Jadi, pemecahan misteri sepatu Dini yang hilang itu betul-betul tergantung pada kemampuanku sendiri. Batin Niko lagi.


"Tenang! Sepatu itu pasti bisa ditemukan lagi. Sekarang lakukan saja tugas kalian masing-masing. Biar aku yang mencarinya," Niko menenangkan.


Setelah teman-temannya bubar Niko menuju tenda anak laki-laki. Ia mengitari tenda itu, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Niko lalu memeriksa di sekitar tenda anak perempuan. Rumputnya masih basah dan berembun. Dugaannya tidak meleset. Meski samar, tampak ada bekas jejak kaki. Niko merngikuti jejak itu. Tepat di tepi sungai, jejak itu lenyap.


"Pintar juga! Pencuri itu masuk kedalam sungai untuk menghilangkan jejaknya," batin Niko.


Ia lalu memandangi aliran sungai kecil itu. Di sisi kanan sungai ada hutan. Sisi kirinya melintasi tenda anak laki-laki dan menuju ke persawahan penduduk.


Niko terpaku beberapa saat. Tadi malam, seingatnya Herdy tidak menyalak sama sekali. Itu berarti, tadi malam tidak ada orang asing yang datang ke perkemahan mereka. Kemungkinan besar pencuri sepatu Dini ada di antara mereka. Tapi siapa? Niko terus berpikir.


Sesaat kemudian Niko masuk ke dalam sungai, menelusuri sisi kiri sungai. Ia lalu berhenti di dekat batu besar tempat mereka biasa melompat. Permukaan batu datar itu begitu bersih. Terlalu bersih! Dan...


Ah, itu jawabannya! Sorak niko di dalam hati. Ia sudah tahu siapa pencuri sepatu Dini!


Sorenya Niko menemui Anton. Ia beralasan ingin mengajak Anton jalan-jalan. Teman-teman yang lainnya sedang sibuk memasak.


"Ton, kembalikan saja sepatu Dini. Kasihan, seharian ia kebingungan," kata Niko pelan. Anton menatap Niko dengan wajah kaget. Kemudia ia mengangguk pelan.


Niko teringat peristiwa sore hari sebelum sepatu Dini hilang. Mereka sedang asik bermain kartu di tenda anak perempuan. Tenda yang tidak begitu luas jadi sesak.Anton yang bertubuh paling jangkung tampak sulit menekuk kakinya yang panjang. Waktu itu, Dini bercanda agak keterlaluan. Katanya, kaki Anton seperti kaki belalang. Mungkin hal itu yang membuat Anton kesal, dan menyembunyikan sepatu Dini.


Saat naik kembali ke darat, tanpa kesulitan Anton langsug menginjakkan kakinya ke atas batu besar. Ia lalu membersihkan jejak kakinya di atas batu besar itu. Anton lalu melompat lagi ke tenda anak laki-laki tanpa membuat jejak di rerumputan.


Seharusnya Anton tidak perlu membersihkan jejak kakinya itu. Karena setiap hari mereka bermain loncat-loncatan di atas batu besar itu. Batu itu tidak akan pernah bersih selama mereka ada di sana. Niko menjadi curiga, justru karena batu itu menjadi sangat bersih.



Pernah di muat di Majalah Bobo Tahun XXXVI 4 September 2008.
Juga di Kumpulan Cerpen Bobo No. 66 Pustaka Ola.


Gadis 1, Tarakan 2016