Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

Halaman Belakang Kantor Dunia Kecil nan Sunyi


Sejak piyik, saya sudah suka membaca. Maklum orang tua dua-duanya guru, dan kegemaran itu diturunkan dari ayahnya bapak.

Bapak saya tentu gemar membaca. Sejak SD saya sudah kenal banyak komik dan majalah anak seperti Deni, Manusia Ikan. Pak Janggut, Majalah Bobo, Majalah Ananda, Si Kuncung dan banyak lagi .

Menginjak sekolah menengah menengah semakin beragam bacaan saya. Buku sastra mulai masuk, berawal dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah Kami-nya NH. Dini, itu yang masih melekat di ingatan, saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang.

Saat rekan-rekan admin XPI membahas tentang mini 4-WD, terus terang saya tidak paham sama sekali. Bukan dunia saya.

Saya ingat dulu mainan itu sering ditayangkan iklannya saat saya lihat Doraemone di masa awal televisi swasta ada, di rumah tetangga saya. Maklum televisi kami tidak bisa menerima siarannya.

Mainan mahal, bagi anak-anak orang kaya begitu pikiran saya saat itu. Saya lebih akrab dengan kumpulan majalah bekas atau buku yang dipinjam dari sekolah, atau waktu saya habis di sawah.

Kemungkinan hal itulah yang membuat saya jadi seorang pemimpi ... ha3x.

Belakang rumah NH. Dini dengan padang ilalang dan ingatannya tentu tidak berhubungan dengan saya, apalagi halaman belakang kantor saya ... iyalah ...ha3x

Kami dari generasi yang berbeda.

Halaman belakang kantor adalah tempat saya berimajinasi, bertemu dengan dunia kecil yang menarik. Apalagi saat compact kamera saya sudah dapat dipakai mengambil gambar macro.

Di tempat itu yang berbatasan hutan kota, saya temukan tempat menjauh sejenak dari kejenuhan pekerjaan dan lumayan sunyi.

Bila halaman belakang rumah NH. Dini merupakan tempat bersembunyi tetangga-tetangganya, halaman belakang kantor adalah tempat saya memasuki dunia kecil sunyi yang berbeda.


Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan 2016


Gadis 1, Tarakan, 2016

Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan  2016


Gadis 1, Tarakan 2016

Rabu, 01 Juni 2016

Abandoned forest

Hutan ini terletak di kelurahan Karang Harapan dikelola dibawah Inhutani. Kawasan wisata alam dengan luas 95 hektare.

Pernah jadi destinasi utama wisata di Tarakan, namun kini telah ditinggalkan. Jadi jangan heran bila memasuki gerbang depannya, yang tampak seolah tidak terawat.

Pengunjungnya pun sepi. Hanya beberapa orang bisa dihitung dengan jari. Sesekali masih digunakan sebagai tempat outbond, kemah, belajar golf ataupun lokasi pengambilan foto pre wedding.


Tepat di samping kanan gerbang bagian dalam terdapat pos jaga dan tak jauh melangkah dari arah gerbang menuju ke dalam, tepatnya di sebelah kiri jalan berdiri sebuah papan reklame yang menggambarkan denah lokasi Wana Wisata tersebut.
Dari denah tersebut, kita bisa mengetahui posisi atau lokasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti taman satwa, kebun anggrek, bumi perkemahan, kolam pancing, tempat bermain anak-anak, tempat bermain golf dan beberapa tempat santai seperti kantin, persemaian, hutan pinus dan hutan agatis.
Wow… pasti seru berwisata di sini. Bayangan kita jika melihat papan petunjuk itu. Tapi itu dulu.
Sekarang semua fasilitas itu sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya bekas-bekasnya. Seperti kandang hewan yang tak terurus, pot-pot bunga anggrek yang tak ditanami lagi dan lain-lainnya.
Lebih jauh ke dalam, pemandangan teduh diarena tersebut sangat meyejukkan mata. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terdukung oleh fasilitas yang mamadai, seperti perawatan rumput di bawah rindangnya pepohonan, serta kursi taman dan tempat bersantai lainnya hampir tidak ada ditemui.
Mencoba menjelajah lebih ke dalam wana wisata tersebut, dan setelah melalui ridangnya pepohonan pinus dan agatis, terdapat sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai kecil.
Di seberang jembatan, akan ditemui tiga buah rumah sederhana tempat tinggal para pengawas yang bertugas di wana wisata tersebut. Tepat di belakang jejeran rumah pengawas, terdapat 7 buah kandang satwa yang pernah menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berlibur.  
Kandang aneka burung dan kandang beruang madu, monyet, semua tampak tidak terawat dan beberapa bagian dinding kandang sudah rusak. Menurut informasi, beberapa tahun silam di taman satwa tersebut terdapat berbagai macam satwa yang ditangkar dari alam liar seperti gajah, jerapah dan beberapa jenis satwa lainnya.
Tulisan diatas saya ambil dari blog ini.

Beruntung waktu saya datang ke Tarakan dan bertemu dengan wana wisata persemaian sudah dalam keadaan tidak terurus dan ditinggalkan.

Bagi saya tempat ini tetap menyenangkan untuk sekedar dikunjungi memanjakan mata melihat warna hijau, mendengar suara burung dan tempat latihan mengambil gambar.

Apalagi pada dasarnya saya suka sendiri, sunyi dan tidak begitu suka keramaian.

Kadang teman-teman kerja saya juga heran apa yang dilihat disana. Soalnya tidak ada apa-apa seperti dulu, hanya tinggal sepi dan terasa seram.

Kalau soal itu saya akui sih, sampai bawa bekal garam dalam kantong segala awalnya ... ha3x.

Namun bagi saya masih banyak keindahan yang tersembunyi yang bisa ditemukan oleh lensa compact kamera saya.









Tyriobapta torrida (Kirby, 1889) / Treehugger

Pertemuan pertama dengan capung ini saat saya diajak hunting bersama dengan Ayahnya Cakrabuwana di wanawisata persemaian.

Capung ini tidak terlalu sensitif atas kehadiran manusia. Sehingga lumayan mudah diambil gambar. Saat itu saya bertemu dengan capung betina.

Untuk identifikasi jenisnya saya dibantu teman facebook yang orang dari LIPI, mbak Pungki, dengan cara saya kirimkan foto lewat e-mail.


Spesies ini umum ada pada hutan pada dataran rendah/ berawa (tapi jarang di hutan yg benar-benar rawa) dan pada kolam hutan.

Paling umum di dataran rendah, tetapi telah ditemukan jg pada 1.000 m di kisaran Tama Abu di Sarawak (R.Dow pers. Comm. 2011).

Toleran terhadap setidaknya beberapa gangguan pada habitatnya, dan telah ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Semenanjung Malaysia (C.-Y. Choong pers. Comm. 2011).


Termasuk capung dengan ukuran sedang. Panjang sayap = 64mm. Panjang tubuh keseluruhan= 36mm.

Suka hinggap pada batang pohon, baik hidup atau yang tidak, lalu terbang dan menempel lagi pada pohon.

Bila terasa terusik atau bosan suka melompat-lompat (terbang dan hinggap pd bagian pohon yg lebih tinggi).

Betina umumnya suka hinggap pada area rendah, dan jantan (lebih sensitif bila dibanding betina) suka hinggap pada ketinggian diatas kepala manusia.


Ditemukan pada hutan/daerah dg cahaya matahari kurang/teduh di daerah Sumatera dan Kalimantan.


Adult Male

Bentuk ujung ekor adult male

Famale

Ujung ekor female

Vivian Maier dan porak-porandanya pikiran saya

Saya membaca mengenai Vivian Maier ketika mencari bahan bacaan tentang street photography. Awalnya google yang mengenalkan saya dengan blog Eric Kim, dan saya suka blog itu pake banget.

Banyak hal tentang fotografi yang bisa saya pelajari dari blog tersebut, terutama tentang street photography. Tertarik? Bisa langsung kesini ya...

Vivian Maier, adalah seorang sosialis, feminis, kritikus film dan a tell-it-like-it type of person. Perempuan ini berkenalan dengan fotografi tahun 1949. Pekerjaannya sebagai pengasuh anak (nanny).

Satu pelajaran yang paling berharga menurut Eric Kim di blognya tentang Vivian Maier adalah ambil gambar untuk dirimu sendiri. Ada empat point lagi yang tidak kalah menarik. Lebih jelasnya ada disini.

Maier tidak pernah menunjukkan hasil karyanya pada orang lain. Ia mengambil gambar hanya untuk dirinya sendiri. Hingga John Maloof menemukan hasil karyanya.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui motivasi dia mengambil gambar dengan genre street photography, ia tidak pernah memberitahukan pada siapapun.

Bahkan rekaman suaranya juga tidak ada. Ia benar-benar mengambil gambar untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Point pertama inilah yang banyak mengubah pandangan saya tentang fotografi. Saya kembali menanyakan pada diri, sebenarnya apa tujuan dasar saya menggeluti hobby ini?

Untuk kepuasanmu sendiri ataukah demi tepuk tangan riuh dari orang lain?

Cakil-cakil tiba-tiba bermunculan dan bertebaran di dalam pikiran saya. Riuh bertanya pada nurani saya.





Selasa, 31 Mei 2016

Naga terbang yang memukau

Perkenalan saya dengan capung membuat saya ingin terus belajar tentang serangga jaman purba ini. Ragam dan keindahannya memukau saya.

Saat saya kecil bila musim hujan drainase jalan (kalenan; dalam jawa) depan rumah orang tua saya terisi oleh air. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan kering saat kemarau.

Pada drainase yang letaknya di ujung jalan buntu, bagian dekat ladang sering terdapat capung jarum beragam warna.

Saya suka mengamatinya. Gerakan terbang mereka berputar, kadang maju atau mundur. Dan hinggap dengan anggunnya pada dedaunan.

Pada beberapa kebudayaan capung begitu dihargai. Bagi orang jepang capung, yang mereka sebut tombo adalah simbol keberanian. Simbol capung juga dapat ditemukan dalam samurai mereka.

Masyarat di pulau Kabena memandang capung dengan prespektif yang berbeda. Sebutan capung di daerah itu adalah Tasi'A.

Bagi mereka tasi'a akan selalu memberi informasi secara alami tentang vegetasi hutan; pergantian musim, kondisi air, dan kondisi lingkungan hutan.

Jika masyarakat Kabaena tidak melihat ada tasi'a yang hidup di suatu sungai maka masyarakat tidak akan mengkonsumsi air sungai tersebut karena berarti sungai itu tidak bersih. Lebih jelasnya bisa dibaca disini.

Saya mulai belajar mengidentifikasi capung. Biasanya mencari gambar yang mirip dari googling.

Bila menemukan jenis dan nama spesiesnya ada rasa bahagia. Menambah pengetahuan saya tentang habitat dan perilaku mereka, ternyata hal ini menyebabkan kecanduan serta meningkatnya rasa ingin tahu saya tentang spesies capung lainnya yang ada di Tarakan.

Akhirnya saya menemukan komunitas pecinta capung di sebuah group facebook, Banyak ilmu tentang capung yang bisa dipelajari disana. Bila Anda tertarik bisa saja langsung kesini saja.

Saya juga menemukan blog menarik yang mampu menambah pengetahuan saya tentang capung. Berisi tentang capung yang ada di Singapura; dengan foto-foto indah beserta informasi habitat, jenis kelamin dan nama spesiesnya. Langsung saja kesini dan dijamin tidak menyesal.

Beberapa buku tentang capung terbitan Indonesia sudah ada beberapa, meski tidak terlalu banyak. Salah satunya Naga Terbang dari Wendit yang diterbitkan oleh Indonesia Dragonfly Indonesia.

Saya memilikinya :)

Gambar milik mbak Magdalena Putri, saya ambil dari akun twitter @magda_putri



Capung-ers

Manusia dan segala kehidupannya selalu menarik untuk dijadikan objek foto. Lebih-lebih lagi dalam momen yang menyentuh. Namun saya memiliki resistensi tinggi, bawaan orok ... ha2x,  rasa malu, sungkan dan takut kena marah bila mengarahkan kamera ke orang yang tidak saya kenal.

Saya juga pernah baca bahwa salah satu faktor penting lainnya adalah mencairkan suasana dan mampu membaur dengan lingkungan yang akan diambil gambar. Lebih bagus lagi bila kehadiran kita tidak mengganggu dan tersamar.

Demi memperoleh kemampuan itu, salah satu latihan yang bagus adalah mengambil gambar serangga. Serangga yang relatif sensitif akan kehadiran manusia.

Proses mengambil gambarnya tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Apalagi bagi saya dengan compact kamera berzoom pendek.


Saya memilih mengambil gambar capung sebagai latihan. Capung adalah bagian dari ingatan masa lalu saya. Setelah dewasa serangga satu ini sudah saya jarang temui atau mungkin saya yang tidak peduli ... he3x.

Beruntung di Tarakan saya masih bisa menemukan capung. Seketika berhamburan ingatan tentang capung dalam benak saya. Hal yang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya.


Mulailah saya menyusuri ingatan-ingatan lampau. Mulailah saya mengenal capung.







Sabtu, 28 Mei 2016

Mengunjungi senja

Selain memburu sunrise, saya juga jadi gemar memburu sunset. Permainan cahaya antara perubahan terang ke gelap ataupun sebaliknya itu selalu memukau.

Alam seperti menunjukkan keahliannya,bahwa waktu antara itu begitu indah. Bahwa ada abu-abu yang memukau antara hitam dan putih. Bahwa bimbang itu mesti ada, menjadi sekat yakin dan tidak yakin.

Cakil selalu muncul menanyakan ketetapan hati kita, sebelum adegan perang kembang. Cakil raksasa kecil itu adalah suara batin kita dalam menimbang,sebelum membuat suatu keputusan.

Mungkin itulah mengapa waktu antara dalam keyakinan jawa dianggap waktu yang gawat. Candhikala. Anak-anak yang dilahirkan pada waktu itu juga masuk anak yang menyandang sukerta, anak yang dipandang membawa nasib sial akibat waktu kelahirannya.

Eh, kok ngelantur
. Senja di Tarakan bisa dinikmati di semua pelabuhan. Karena rata-rata terletak di bagian barat pulau.

Pelabuhan yang sering saya kunjungi untuk melihat senja adalah tengkayu 2. Pelabuhan perikanan orang setempat menyebutnya, karena banyak pabrik pengolahan hasil laut baik itu udang, kepiting atau ikan bandeng.

Pelabuhan kecil tempat bongkar muat barang dari dan ke pulau-pulau sekitar Tarakan. Sebenarnya ada tiga pelabuhan lagi; pelabuhan malundung (pelabuhan besar bongkar muat barang, dan kapal penumpang ukuran besar), pelabuhan tengkayu 1 (pelabuhan speeedboat dari dan ke luar Tarakan) dan pelabuhan tengkayu 3 (pelabuhan kapal ferry).

Sebenarnya melihat sunset terbaik ada di pelabuhan tengkayu 3, namun jaraknya yang lumayan jauh sekitar 20 km dari tempat tinggal saya, tidak bisa jadi pilihan. Berbeda dengan tengkayu 2 yang hanya 10 menit. Ibadah magrib juga tidak terlewat.

Dari sekian sering saya mengunjungi senja, senja yang datang selalu berbeda. Selalu tak sama. Entah, mengapa?