Tampilkan postingan dengan label kalimantan utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalimantan utara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

Kenduri dan Pertanyaan Kyai

Sore ini saya baca sebuah artikel tentang hal yang sempat heboh di social media. Saya suka artikelnya, bila Anda tertarik bisa dibaca disini.

Sudut pandang artikel tersebut menarik menurut saya. Seperti biasa saya lalu jadi baper, kotak ingatan masa lalu tumpah ruah.

Kenduri (atau saya sering nyebutnya slametan) adalah hal yang sering keluarga saya lakukan, apalagi orang tua saya masih memegang adat Jawa.

Siklus hidup manusia jawa tidak bisa lepas dari yang namanya slametan. Dimulai sejak dalam kandungan hingga meninggal, beragam acara slametan diadakan.

Intinya cuma satu memohon agar selalu selamat dan bersyukur atas karunia Tuhan.

Suatu saat kala saya main ke rumah kyai saya, beliau sempat membahas slametan ini. Bukan tentang uba-rampe-nya (hal-hal yang harus ada dalam sebuah kenduri, dalam adat jawa saat kenduri kadang berbeda-beda makanan yang harus ada tergantung peruntukan kenduri) namun lebih pada pembagian berkat (makanan yang dibagikan saat kenduri).

Saat itu beliau bertanya pada saya, siapa yang seharusnya pertama kali (prioritas utama) mendapatkan berkat tersebut. Bila sudah begini, saya biasanya super hati-hati menjawab.

Seringnya saya malah diam sambil senyum tolol ... he3x.

Saya menjawab kebiasaan di keluarga kami saat kenduri, yang didahulukan adalah bagian dapur. Kami sering kali meminta bantuan tetangga (yang menyediakan jasa/tenaga untuk memasak) kadang dua sampai tiga orang selama tiga hari dan masih dibantu saudara sepupu atau saudara bapak saya.

Tentu mereka ini tidak sempat memasak untuk di rumah sendiri. Untuk saudara pasti ada hantaran makanan selain diundang kenduri.

Kemudian kyai melanjut lalu siapa lagi.

Saya jawab tetangga, orang masjid, janda-janda dan terakhir orang yang tidak datang. Untuk dua yang terakhir kami antarkan. Kadang ditambah bekas guru bapak saya saat SD dan kenalan baik.

Kemudian kyai menjelaskan bahwa dalam kenduri itu yang utama dapat berkat adalah bagian dapur. Orang yang memasak. Karena tanpa mereka beras tidak bisa jadi nasi, bahan mentah tidak bisa jadi makanan.

Kemudian baru janda-janda apalagi bila tidak punya. Lalu tetangga sekitar karena bila kita kesusahan tetangga sekitar juga yang pertama menolong.

Dan terakhir adalah orang-orang masjid. Sering kali urutan itu terbalik. Menurut beliau semua orang bisa berdoa, bukan hanya para ulama saja yang bisa.

Saya hanya senyum. Saya tahu kemana arah kyai berbicara dan apa maksud serta maknanya.

Hal yang mirip juga pernah saya lihat di kantor. Pedagang makanan sering masuk kantor kami. Salah satunya adalah penjual roti.

Kebetulan teman kantor saya ada yang sangat mengenalnya, sehingga ia berani menggodanya. Penjual ini suka menabung untuk berdana korban perang di luar negeri.

Teman kantor ini suka menasehatinya, untuk apa memberi santunan pada yang jauh padahal masih banyak yang membutuhkan santunan disekitar kita.


Jl Jendral Sudirman, Tarakan  2016

Minggu, 12 Juni 2016

Ramadhan dan Kunyah Pelan-Pelan

Pagi ini saya buka facebook ada notifikasi tentang tanggapan seorang teman atas komentar saya pada statusnya. Sebenarnya bukan  hal itu yang menarik namun komentar selanjutnya yang mengeluh perutnya suka kembung dan balasan dari orang lain yang menawarkan solusinya, sebuah obat kimia.

Saya pun demikian, apalagi saat saya magang di puskesmas. Saya hapal obat apa yang dipakai menetralkan apa, meski saya bukan dokter atau apoteker.

Saat dulu akrab dengan sawah, untuk meninggikan hasil produksi tanam biasaya bapak saya mencampur pupuk, tidak jarang saya yang jadi bagian pengantaran atau bantu angkat-angkat. Saya juga yang dapat tugas membuka pintu gudang dan menghitung jumlah pupuk yang diantar dan diturunkan dari truk bila datang dari KUD kecamatan.

Kembali ke perut kembung, memang jalan pintas dengan yang serba kimiawi itu cepat dan mudah. Bukan berarti tanpa efek samping, dan hal ini yang jarang dijelaskan atau kita tidak mau tahu.

Perut kembung bisa terjadi karena bakteri pada bagian atas tubuh kita lebih banyak daripada bagian bawah (usus), suatu kondisi yang tidak ideal tentunya bagi kesehatan. Bisa pula karena cara mengunyah yang terburu-buru.

Saya pun sejak kecil dituntut serba cepat oleh orang tua. Lambat adalah sebuah dosa, karena hidup menuntut cepat.

Hal ini juga termasuk dalam hal makan. Siapa yang makannya cepat, kerjanya cepat juga.

Persoalan makan cepat sering membuat saya kesulitan bila ada acara makan komunal, kenduri. Bisanya saya memilih menolak makan.

Padahal kecepatan mengunyah makanan saya termasuk lumayan, tidak lambat-lambat banget. Tapi selalu jadi yang terakhir kalau makan komunal.

Setahun ini saya mulai belajar makan lambat, mengunyah pelan-pelan, dengan porsi lebih sedikit. Sejak kenal pola pengaturan makan (food combining), meski dulu saat kuliah pernah seorang teman menjelaskan diet ini bagi kecantikan, terus terang saya menikmatinya.

Perbaikan kondisi kesehatan secara signifikan saya rasakan meningkat. Jarang sekali sakit, tidak seperti sebelumnya. Emosi juga lebih stabil, sabar.

Hal tersebut ternyata pengaruh dari cara mengunyah (semakin banyak kunyahan akan mempengaruhi pelepasan hormon relaksasi) dan jenis makanan yang mayoritas nabati.

Saya masih ingat pernah dihukum 10 tahun tidak boleh makan hewani karena bermain awan/hujan. Demi mengurangi kegalakan emosi saya.

Yah, waktu itu saya lakukan karena terpaksa dan tentu hasilnya juga tidak sebagus bila keinginan dan dengan kesadaran sendiri tentunya .... he3x.

Baru sekarang saya pahami arti hukuman itu.

Kunyah baik-baik dan makan dengan santai, bahasan soal hal ini sebenarnya sudah lama juga saya baca pada novel Tetsuko Kuroyanagi, Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela. Bila tertarik bisa di dapatkan versi pdf-nya disini.

Saya membaca novel tersebut saat sekolah menengah atas dan saya tidak memahaminya, hanya sekedar membaca.

Saya pernah mendengar kalimat begini, saat kita ingin menerima sebuah pengetahuan baru sebaiknya kita kosongkan dulu pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki sebelumnya, agar ada cara pandang baru mengikuti.

Tentu hal tersebut tidaklah mudah, karena berkaitan dengan ego kita utamanya, belief system dan masih banyak lagi lainnya.

Saya pikir itulah yang terjadi dulu pada saya ... he3x. Adanya hanya penyangkalan-penyangkalan belaka.

Ramadhan adalah saat tepat untuk belajar melambat bagi saya. Belajar mengunyah pelan-pelan.

Belajar menundukkan ego serta belajar mengenal dan mendengarkan suara tubuh saya.

Karang Balik, Maret 2016



Jumat, 10 Juni 2016

Pasang dan Keceriaan

Tarakan adalah pulau kecil yang dikelilingi laut. Kemana pun kita menuju ya menthok-menthok-nya ketemu laut.

Seorang kakak tingkat kuliah dan teman di facebook pernah mengomentari hasil ambil gambar saya, kenapa mayoritas selalu berhubungan dengan air. Lha, gimana lagi ... ha3x.

Saya yang dibesarkan di daerah dataran rendah dengan kultur pertanian tentu sangat asing dengan kultur laut. Laut bagi saya adalah suatu hal yang baru.

Adat dan cara hidup masyarakat laut berbeda dengan saya tentunya. Begitu pula belief system yang dianut.

Hal unik yang memperluas cara pandang dan wawasan saya.

Peredaran bulan sangat berpengaruh pada kultur masyarakat laut, karena berkaitan dengan pasang surut air laut.

Pada kultur masyarakat petani tradisional (yang masih menganut sistem bercocok tanam berdasarkan almanak) ada pengaruhnya juga.

Teman kantor saya bercerita bila air pasang harga ikan biasanya mahal di pasar. Saya baru tahu bahwa saat pasang/purnama ternyata ikan lebih sulit dicari.

Saya perhatikan, para nelayan selalu memberi penerangan lebih saat memancing. Ternyata selain untuk memudahkan mereka saat memasang umpan, penerangan itu berguna untuk memancing plankton-plankton agar mendekati sekitar kapal,

Otomatis jika plankton-plankton berkumpul di sekitar kapal maka ikan-ikan predator pun akan mengikuti makanannya.

Saat bulan purnama, cahaya lampu nelayan kalah terang dengan cahaya bulan membuat usaha nelayan mengumpulkan plankton dengan bantuan cahaya lampu gagal total.

Kala purnama, arus air laut juga cenderung lebih kencang daripada biasanya, arus yang kencang itu membuat plankton-plankton berpindah lokasi dengan cepat bahkan tidak menentu. Itulah yang jadi penyebab ikan lebih susah didapat.

Namun, pasang berarti keceriaan anak-anak. Mereka bebas berenang atau pun bermain perahu dengan riang.

Hal yang sering saya saksikan kala pasang tiba.


Beringin, Tarakan, 2014

Beringin, Tarakan 2014


Beringin, Tarakan 2014
Kesibukan kala pasang, Tengkayu 2 2014

Kamis, 09 Juni 2016

Halaman Belakang Kantor Dunia Kecil nan Sunyi


Sejak piyik, saya sudah suka membaca. Maklum orang tua dua-duanya guru, dan kegemaran itu diturunkan dari ayahnya bapak.

Bapak saya tentu gemar membaca. Sejak SD saya sudah kenal banyak komik dan majalah anak seperti Deni, Manusia Ikan. Pak Janggut, Majalah Bobo, Majalah Ananda, Si Kuncung dan banyak lagi .

Menginjak sekolah menengah menengah semakin beragam bacaan saya. Buku sastra mulai masuk, berawal dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah Kami-nya NH. Dini, itu yang masih melekat di ingatan, saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang.

Saat rekan-rekan admin XPI membahas tentang mini 4-WD, terus terang saya tidak paham sama sekali. Bukan dunia saya.

Saya ingat dulu mainan itu sering ditayangkan iklannya saat saya lihat Doraemone di masa awal televisi swasta ada, di rumah tetangga saya. Maklum televisi kami tidak bisa menerima siarannya.

Mainan mahal, bagi anak-anak orang kaya begitu pikiran saya saat itu. Saya lebih akrab dengan kumpulan majalah bekas atau buku yang dipinjam dari sekolah, atau waktu saya habis di sawah.

Kemungkinan hal itulah yang membuat saya jadi seorang pemimpi ... ha3x.

Belakang rumah NH. Dini dengan padang ilalang dan ingatannya tentu tidak berhubungan dengan saya, apalagi halaman belakang kantor saya ... iyalah ...ha3x

Kami dari generasi yang berbeda.

Halaman belakang kantor adalah tempat saya berimajinasi, bertemu dengan dunia kecil yang menarik. Apalagi saat compact kamera saya sudah dapat dipakai mengambil gambar macro.

Di tempat itu yang berbatasan hutan kota, saya temukan tempat menjauh sejenak dari kejenuhan pekerjaan dan lumayan sunyi.

Bila halaman belakang rumah NH. Dini merupakan tempat bersembunyi tetangga-tetangganya, halaman belakang kantor adalah tempat saya memasuki dunia kecil sunyi yang berbeda.


Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan 2016


Gadis 1, Tarakan, 2016

Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan  2016


Gadis 1, Tarakan 2016

Selasa, 07 Juni 2016

Petromaks dan Ceret Ajaib

Seorang pengarang pernah mengatakan, masa lalu adalah sebuah negeri asing. Senantiasa asing.

Kita, yang hidup hari ini, tak akan pernah kenal benar dunia luar dan dalamnya, jalan raya dan jurang-jurangnya, penghuni dan perkakasnya.

Begitu Goenawan Mohamad menulisnya pada catatan pinggir dengan judul Sejarah, 21 Oktober 2013 silam.

Ingatan datang dari gua yang gelap; ia bahkan bagian dari gua itu. Ketika kita menampilkannya di bawah cahaya yang menyorot, sepatutnya kita tahu ia telah berubah.

Hal yang sama saya alami saat menjejak kembali ingatan dan kenangan saya saat mudik bulan Mei 2016 kemarin. Saya tidak mengenal mungkin bahkan mengingat semua detail yang pernah ada.

Seringkali ingatan dan kenangan mempengaruhi objek sasaran ambil gambar saya. Sekedar bernostalgia dengan ingatan yang makin kabur mungkin, demi menyenangkan batin saya sendiri.

Jadi tidak aneh bila objek yang saya ambil gambar tidak dipahami, atau dianggap penting/menarik bagi orang lain. Karena itu personal ingatan samar saya dengan masa lalu saya.

Komunikasi batin antara saya dengan diri saya sendiri.

Satu malam saat lagi antri beli tahu campur (sebetulnya tahu tek kalau di Surabaya), sambil duduk saya terpaku melihat sebuah teko (ceret dalam jawa). Permukaan luarnya berembun, saya tahu ada es batu didalamnya.

Ingatan saya kembali ke masa lalu. Dulu hubungan saya dan ceret yang ukurannya persis seperti itu atau yang ukurannya lebih besar sangatlah dekat.

Sewaktu sekolah dasar hingga sekolah menengah saya sering diajak ke sawah mulai mengantar makanan pagi, kadang siang di sawah buat para pekerja.

Bila siang juga sambil menenteng ceret, yang seringnya berisi air dengan es batu, buat pekerja di sawah.


Ceret, Tarakan 2016

Minggu, 05 Juni 2016

Sunyi

Kidung gatha tisarana menggema
ketika sukma dan raga menyatu semesta
membisikkan dharma manusia

masihkah harus bertanya
tentang surga dan neraka

tentang kala dan pandita,
dan guna kata-kata


jadilah kesunyian abadi
seperti mata yang selalu mengenali

sebelum jantra berhenti dan harus kembali
ke tempat semua yang hidup dan yang mati
saling menuai dan melunasi janji



Sabtu, 04 Juni 2016

Saat nasi sudah jadi bubur

Mengunjungi sebuah tempat yang sama, diwaktu yang sama dan berulang. Coba Anda bayangkan bosan juga, kan?

Saya tipe orang yang tidak suka kejutan, saya suka menyiapkan segala hal terlebih dahulu dan tidak suka menghadapi hal-hal yang terjadi di luar rencana tersebut. Untuk tiap jalan menuju ke kantor pun saya ya lewat jalan yang sama setiap hari.

Makanan pilihan saya ya itu-itu saja juga. Kalo tidak pecel, ya gado-gado, ya urap berputar ke itu-itu saja.

Sesekali rujak, yang ini jarang karena rujak cingur di Tarakan mahal Rp. 25.000,00/porsi (padahal di kampung halaman saya hanya Rp. 5.000,00/porsi dengan derajat rasa enak yang sama).

Belum pilihan baju, motor dan akesesoris. Saya suka yang standar, karena saya lebih memilih fungsi daripada estetika. Yups, saya orang yang membosankan, bukan ... ha3x.

Selinear-linearnya saya, namanya manusia ya ada rasa bosan juga. Itu juga yang saya alami saat datangi senja ke pelabuhan tengkayu 2.

Senjanya ya begitu-begitu saja, aktivitas manusia ya begitu-begitu saja. Masak  harus bikin siluet terus setiap hari, ndak lucu kan ...

Tapi saya sudah di tempat itu dan mau apa lagi? Saya sudah berkorban waktu, berkorban bahan bakar dan usia pemakaian motor saya (kembali otak kapitalis saya berhitung) untuk ke tempat itu.

Ibarat pepatah nasi sudah jadi bubur. Masak buburnya dibuang atau tidak dimakan? Mau menangisi dan mengomeli bubur agar jadi nasi kembali? Impossible kan ...

Saat itulah saya teringat kata-kata kolomnis Kompas Samuel Mulia, bila nasi sudah jadi ya bikin jadi sesuatu yang enak dimakan. Bisa tambahkan kecap, suwiran ayam, air kaldu, emping belinjo atau remah kacang.

Begitu pun saya, bila dalam posisi itu saya coba cari sesuatu yang unik yang biasanya terlewatkan karena fokus pada matahari dan siluet manusia. Kadang dapat, kadang juga tidak.

Bila tidak, ya saya duduk-duduk saja melihat suasana. Otak kapitalis saya bungkam, dan saya bilang pada batin saya ... jangan terlalu keras pada diri sendiri.

Kadang perlu sejenak keluar dari pagar yang kita buat sendiri. Menikmati keadaan di luar pagar.



lonely sandals, tengkayu 2 2014

the anchor, tengkayu 2 2014

tonggak penambat, tengkayu 2 2014

big and slim, tengkayu 2 2014





Ikatan

Ikatan emosi adalah sesuatu yang selalu unik untuk dicermati. Entah itu antara individu dengan orang tuanya, individu dengan teman temannya, maupun antar lingkungannya.

Saat turun ke jalan tanggal 23 November 2014, berkaitan dengan adanya parade/karnaval memperingati ulang tahun kota, saya sengaja mengambil gambar dengan tema itu.

Beberapa pengalaman melihat keramaian, ada hal-hal yang unik tentang ikatan yang terjadi di ruang publik. Apakah masuk kategori street photography atau tidak bagi saya tidak masalah.

Saya tertarik mengabadikannya ...

Di tepi jalan, 2014

Bersama, 2014

Menyeberang, 2014

Tiup, 2014

Menyusu, 2014

Dengan Ayah, 2014

Smile, 2014

dengan anak perempuanku, 2014

Dekap, 2014

pada pundak ayah, 2014

with mom, 2014

diantara kaki-kaki, 2014

Melongok, 2014

taking a picture, 2014



Jumat, 03 Juni 2016

Patrem

Bintang berpendar di langit. Rembulan bagai semangka berwarna kuning di atas kepala.

Namun, malam ini terasa begitu sunyi. Tidak ada angin yang asyik bermain dengan dedaunan. Tidak ada suara jengkerik yg menjerit meriuhkan malam.

Pintu-pintu rumah juga tertutup sejak sore. Sepi. Malam seperti memberi tanda bahwa akan ada pencuri atau nyawa yang bakal tercabut dari raga.

Harum bau bunga-bunga mangga yang sedang mekar mengambang layaknya kabut. Harum itu memenuhi setiap jengkal halaman tempatku berdiri saat ini berselimut hitam jubah sang malam.

Anakku Telaga sudah tertidur pulas sejak sore di kamarnya.

Dari arah barat lirih angin membawa suara gamelan tayup, yang membuat pikiranku dipermainkan kenangan.

Kenangan

Layaknya mengejar matahari
yg selalu tergelincir di horison pantai

Menyisakan merah seperti darah
yang hilang ditelan ruang

Pertemuan hanyalah kiasan perpisahan
seperti cahaya yang terbiaskan
oleh jantera putar masa

Diujungnya kau lihat bagaimana nasib
mencandai dan tertawa gembira
atas derita kita....

Jangan coba memaksakan makna
karena masa adalah tuannya

Kenangan tidak seperti kertas
yg mudah terbakar oleh nyala sekam.




Bingkai Waktu

Kita selalu mencoba membingkai waktu
menghentikan gerak, kepak dan jejak
menabur senyum dikuncup-kuncup lensa
berharap pada kilat karena mata tak lagi mengingat


Kita tak pernah bosan bermimpi
menghentikan detik, rintik dan ritmik
menetap di sebuah titik
tanpa kata tanpa bisik


Akankah kita bertanya tentang waktu
yang tak pernah berdusta
akan makna di setiap untaian kata?

Bukan yang dulu bukan yang nanti
dan tak bakal terulang lagi.





Foto macro pertama dari compact camera

Setelah saya mendapat conversion adapter tube, couple makro ring (male to male), dan lensa canon 50mm 1.8 II, peralatan buat bikin foto macro sudah lengkap.

Percobaan pertama pada halaman parkir belakang kantor. Memang bukan padang ilalang, semak atau rerumputan namun pada paving parkir dan kebetulan berbatasan dengan hutan kota.

Saya sengaja mengambil area sekitar tumpukan daun-daun yang jatuh dan paving yang berlumut.

Setidaknya dengan lantai paving/keras saya bisa menumpukan lensa sehingga shake yang terjadi pada kamera compact saya menjadi minimal.

Bercucuran keringat akibat menahan napas, konsentrasi pengaturan fokus yang tepat pada objek, dianggap dan dipandang aneh oleh orang lain lumayan menguras energi ... ha3x.

It's Oke. Yang pentingkan tidak merugikan atau mengganggu siapapun... ha3x

Beberapa foto macro pertama saya yang saya ambil dengan menggunakan compact kamera.






Kumenunggu ...

Saya transaksi pada tanggal 15 Februari 2016. Sebelumnya penyedia jasa sudah beritahu bahwa ongkir tiga kali lipat dari harga barang.

Karena ingin, ya saya iyakan saja. Harga barangnya $12.90 dan ongkirnya $39.00 sehingga total $52.00.

Menunggu adalah masa yang membosankan. Penyedia jasa bilang tanggal 10 Maret 2016 barang akan sampai. Tracking number juga sudah dikirimkan pada saya.

Namun hingga tanggal 15 Maret 2016 barang tidak nongol juga, saya sudah coba cek di kantor pos juga belum ada. Saya kemudian cek tracking number pada situs pos Indonesia dan tidak saya temukan.

Di kemudian hari, saya baru mengerti bahwa pengiriman yang bisa dilacak di situs pos indonesia adalah jenis EMS.

Lalu saya memcoba tracking secara online ternyata hanya terlacak perjalanan barang sampai kantor pos Amerika Serikat saja.

Setelah itu raib. Diantara keraguan akan menunggu, saya googling dan agak mengerti tentang sistem pengiriman barang pada kantor pos Amerika Serikat.

Pengiriman barang pesanan saya yang menggunakan Priority Mail memang hanya bisa dilacak perjalanannya saat di kantor pos Amerika Serikat saja.

Ada jenis pengiriman barang yang bisa dilacak baik pada kantor pos Amerika Serikat maupun kantor pos Indonesia yaitu Express Mail Service (EMS) dan tentu biayanya lebih mahal.

Tentang jenis pengiriman lebih jelasnya bisa dibaca disini.

Baru tanggal 24 Maret 2016 barang datang, padahal penyedia jasa pembelian sudah melayangkan surat keluhan karena terlambatnya pengiriman.

Aturan perpajakan pembelian barang dari luar negeri diatas $50 terkena pajak. Saat itu saya kena pajak Rp. 7.300,00.

Sekarang sepertinya pajaknya sudah naik.

Aturan jual beli di Amazon.com bila hingga 10 hari barang belum juga diterima/terlambat pembeli bisa mengajukan complain dan opsinya biasanya barang dikirim ulang atau uang dikembalikan oleh penjual.

Sehingga disarankan membeli dari penjual yang punya reputasi bagus. Saya dari awal memilih penjual dengan reputasi bagus, dan hal itu terbukti.

Tanggal 31 Maret 2016 ada kiriman saya terima dari A & R Photo Inc dari Brooklyn, New York. Isinya barang pesanan saya.

Sepertinya tindak lanjut dari complain yang diajukan karena keterlambatan pengiriman.















Kamis, 02 Juni 2016

Jasa pembelian barang online dari luar negeri

Keinginan memiliki conversion adapter tube 52 mm untuk compact kamera tidak bisa dibendung. Saya mencoba googling dan menemukan penjualnya disini.

Sayang sudah tidak aktif lagi, berarti terjual. Saya tidak menyerah dan terus mencari.

Umumnya yang dijual dalam negeri adalah adapter compact kamera seri sebelumnya atau pun ring adapter ukuran 37mm.

Untuk menggunakan ring adapter ukuran 37 mm menurut saya riskan karena langsung menempel pada lensa kamera yang rapuh. Besar kemungkinan merusak lensa kameranya bila diberikan beban berlebih.

Dan saya tidak mau ambil resiko itu.

Sebenarnya beberapa situs belanja online luar negeri ada yang jual seperti disini. Hanya saja saya belum pernah punya pengalaman beli barang dari situs online luar negeri. Kartu kredit juga tidak punya.

Saya memiliki akun paypal dan tentu saya harus mengisinya terlebih dahulu akun tersebut. Dari googling saya tahu ada penyediaan jasa pengisian akun paypal sehingga  bisa untuk belanja.

Googling juga menginformasikan jasa pembelian barang dari luar negeri. Lebih simple, buat yang tidak ingin repot seperti saya.

Namun, tentu ada tambahan biaya. Banyaknya pihak yang menawarkan jasa pembelian barang dan tentunya menemukan orang yang tepat serta terpercaya bagaikan mencari jarum dibawah tumpukan jerami.

Try and error harus dijalani. Saya memilih mencobanya, dan kebetulan pilihan saya tepat.

Saya berkomunikasi via e-mail dan whattaps. Dan penyedia jasanya dapat dipercaya. Bila tertarik bisa kesini


Gambar saya ambil dari situs amazon.com


Macro fotografi dan compact kamera

Sudah lama sebenarmya saya tertarik dengan macro fotografi. Bahkan sejak sebelum jadi satpam di XPI.

Rekan di facebook yang sering posting foto macro dan di group odonata juga. Namun mencoba mengambil foto macro saya lakukan saat bergabung dengan XPI.


Salah satu rekan admin memberi saya lensa bongkaran (lensbong) yang membuat saya bisa mengambil gambar dengan smartphone. Di group XPI postingan makro juga bertebaran.


Namun, jujur...mengambil gambar dengan smartphone dan compact kamera beda buat saya. Saat mengambil gambar dengan compact kamera, saya merasa seperti larut dan masuk ke dalamnya.


Mungkin karena logika atau kedekatan personal dengan saya dengan compact kamera lebih erat dibanding dengan smartphone. Padahal dua-duanya selalu menyertai saya.


Keinginan untuk bisa mengambil gambar macro dengan compact kamera terus menggebu. Berawal dari belfot.com saya baca artikel tentang Alexey Kljatov yang mengambil gambar macro kepingan kristal salju dengan compact kamera. Lengkap ulasannya ada disini.


Ia menambahkan lensa kit/50 mm secara terbalik plus reserve ring. Untuk memperkuat sambungan lensa, ia gunakan sepotong kayu sebagai penompang konstruksi, kain sebagai tali dan plastik hitam sebagai pelindung agar cahaya tidak bocor dan hanya masuk dari bagian depan rakitannya.


Kamera compact siap untuk dibauat mengambil gambar. Koleksi lengkap foto macro kristal salju karya Alexey disini.


Kemungkinan macro dengan compact kamera itu bisa. Beberapa tips menyarankan penggunaan lup sebagai pembesar atau menggunakan lensa bongkaran (lensbong) seperti yang diaplikasikan pada smartphone.

Dari forum di dpreview.com saya dapatkan bahasan bahwa ada adapter tube bagi compact kamera saya. Sehingga bisa buat macro ataupun birding. Ulasannya disini.

Adaptor tube dengan diameter 52 mm ini lebih aman daripada yang ada sebelumnya yaitu reverse ring dengan diameter 37 mm.

Rasanya saya tidak salah pilihan memilih compact kamera ini ....



Gambar saya ambil dari situs dpreview.com
Gambar saya ambil dari situs dpreview.com
Gambar saya ambil dari situs dpreview.com

On Street Photography

Berkelana di blog Eric Kim seolah serasa dalam perpustakaan bagi saya. Namun, terasa ada barrier setelah melihat foto-foto keren dan lokasi pengambilan fotonya.

Saya merasa seperti biji-biji dandelion yang dilempar oleh angin ke sebuah negeri antah berantah. Saya merasa tidak punya pijakan, tidak mengakar.

Negeri saya posisi mataharinya jelas berbeda dengan negeri-negeri yang menjadi lokasi pengambilan gambar om Eric Kim. Musim, budaya dan tata kotanya juga.

Seolah-olah mustahil bila saya terapkan di kota kecil tempat saya tinggal. Ehm ... atau ini hanya excuse saya saja ... ha3x.

Seorang cakil kecil tiba-tiba muncul dan dan berceletuk keras dalam batin.

Saya gembira sekali saat ada realease buku street photography karangan om Erik Prasetya. Sebenarnya saya lebih dulu kenal novel karya  istrinya; Saman dan Larung.

Buku On Street Photography memberikan pengantar street photography; mulai pendekatan, teknik, serta masalah etika dan estetikanya. Juga ada beda snapshot, human interest, travel photography dan street photography.

Saya membelinya 26 November 2014 lalu bersama buku referensi fotografi lainnya, masih pengarang yang sama, Street, Rain, & Style. Bila Anda tertarik bisa kesini untuk membelinya.

Setidaknya ada jalan untuk membuka sedikit demi sedikit 'pekerjaan rumah' saya untuk membuat gambar yang bercerita.


Gambar saya ambil dari ww.goodreads.com

Rabu, 01 Juni 2016

Abandoned forest

Hutan ini terletak di kelurahan Karang Harapan dikelola dibawah Inhutani. Kawasan wisata alam dengan luas 95 hektare.

Pernah jadi destinasi utama wisata di Tarakan, namun kini telah ditinggalkan. Jadi jangan heran bila memasuki gerbang depannya, yang tampak seolah tidak terawat.

Pengunjungnya pun sepi. Hanya beberapa orang bisa dihitung dengan jari. Sesekali masih digunakan sebagai tempat outbond, kemah, belajar golf ataupun lokasi pengambilan foto pre wedding.


Tepat di samping kanan gerbang bagian dalam terdapat pos jaga dan tak jauh melangkah dari arah gerbang menuju ke dalam, tepatnya di sebelah kiri jalan berdiri sebuah papan reklame yang menggambarkan denah lokasi Wana Wisata tersebut.
Dari denah tersebut, kita bisa mengetahui posisi atau lokasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti taman satwa, kebun anggrek, bumi perkemahan, kolam pancing, tempat bermain anak-anak, tempat bermain golf dan beberapa tempat santai seperti kantin, persemaian, hutan pinus dan hutan agatis.
Wow… pasti seru berwisata di sini. Bayangan kita jika melihat papan petunjuk itu. Tapi itu dulu.
Sekarang semua fasilitas itu sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya bekas-bekasnya. Seperti kandang hewan yang tak terurus, pot-pot bunga anggrek yang tak ditanami lagi dan lain-lainnya.
Lebih jauh ke dalam, pemandangan teduh diarena tersebut sangat meyejukkan mata. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terdukung oleh fasilitas yang mamadai, seperti perawatan rumput di bawah rindangnya pepohonan, serta kursi taman dan tempat bersantai lainnya hampir tidak ada ditemui.
Mencoba menjelajah lebih ke dalam wana wisata tersebut, dan setelah melalui ridangnya pepohonan pinus dan agatis, terdapat sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai kecil.
Di seberang jembatan, akan ditemui tiga buah rumah sederhana tempat tinggal para pengawas yang bertugas di wana wisata tersebut. Tepat di belakang jejeran rumah pengawas, terdapat 7 buah kandang satwa yang pernah menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berlibur.  
Kandang aneka burung dan kandang beruang madu, monyet, semua tampak tidak terawat dan beberapa bagian dinding kandang sudah rusak. Menurut informasi, beberapa tahun silam di taman satwa tersebut terdapat berbagai macam satwa yang ditangkar dari alam liar seperti gajah, jerapah dan beberapa jenis satwa lainnya.
Tulisan diatas saya ambil dari blog ini.

Beruntung waktu saya datang ke Tarakan dan bertemu dengan wana wisata persemaian sudah dalam keadaan tidak terurus dan ditinggalkan.

Bagi saya tempat ini tetap menyenangkan untuk sekedar dikunjungi memanjakan mata melihat warna hijau, mendengar suara burung dan tempat latihan mengambil gambar.

Apalagi pada dasarnya saya suka sendiri, sunyi dan tidak begitu suka keramaian.

Kadang teman-teman kerja saya juga heran apa yang dilihat disana. Soalnya tidak ada apa-apa seperti dulu, hanya tinggal sepi dan terasa seram.

Kalau soal itu saya akui sih, sampai bawa bekal garam dalam kantong segala awalnya ... ha3x.

Namun bagi saya masih banyak keindahan yang tersembunyi yang bisa ditemukan oleh lensa compact kamera saya.