Tampilkan postingan dengan label panasonic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panasonic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Ramadhan dan Kunyah Pelan-Pelan

Pagi ini saya buka facebook ada notifikasi tentang tanggapan seorang teman atas komentar saya pada statusnya. Sebenarnya bukan  hal itu yang menarik namun komentar selanjutnya yang mengeluh perutnya suka kembung dan balasan dari orang lain yang menawarkan solusinya, sebuah obat kimia.

Saya pun demikian, apalagi saat saya magang di puskesmas. Saya hapal obat apa yang dipakai menetralkan apa, meski saya bukan dokter atau apoteker.

Saat dulu akrab dengan sawah, untuk meninggikan hasil produksi tanam biasaya bapak saya mencampur pupuk, tidak jarang saya yang jadi bagian pengantaran atau bantu angkat-angkat. Saya juga yang dapat tugas membuka pintu gudang dan menghitung jumlah pupuk yang diantar dan diturunkan dari truk bila datang dari KUD kecamatan.

Kembali ke perut kembung, memang jalan pintas dengan yang serba kimiawi itu cepat dan mudah. Bukan berarti tanpa efek samping, dan hal ini yang jarang dijelaskan atau kita tidak mau tahu.

Perut kembung bisa terjadi karena bakteri pada bagian atas tubuh kita lebih banyak daripada bagian bawah (usus), suatu kondisi yang tidak ideal tentunya bagi kesehatan. Bisa pula karena cara mengunyah yang terburu-buru.

Saya pun sejak kecil dituntut serba cepat oleh orang tua. Lambat adalah sebuah dosa, karena hidup menuntut cepat.

Hal ini juga termasuk dalam hal makan. Siapa yang makannya cepat, kerjanya cepat juga.

Persoalan makan cepat sering membuat saya kesulitan bila ada acara makan komunal, kenduri. Bisanya saya memilih menolak makan.

Padahal kecepatan mengunyah makanan saya termasuk lumayan, tidak lambat-lambat banget. Tapi selalu jadi yang terakhir kalau makan komunal.

Setahun ini saya mulai belajar makan lambat, mengunyah pelan-pelan, dengan porsi lebih sedikit. Sejak kenal pola pengaturan makan (food combining), meski dulu saat kuliah pernah seorang teman menjelaskan diet ini bagi kecantikan, terus terang saya menikmatinya.

Perbaikan kondisi kesehatan secara signifikan saya rasakan meningkat. Jarang sekali sakit, tidak seperti sebelumnya. Emosi juga lebih stabil, sabar.

Hal tersebut ternyata pengaruh dari cara mengunyah (semakin banyak kunyahan akan mempengaruhi pelepasan hormon relaksasi) dan jenis makanan yang mayoritas nabati.

Saya masih ingat pernah dihukum 10 tahun tidak boleh makan hewani karena bermain awan/hujan. Demi mengurangi kegalakan emosi saya.

Yah, waktu itu saya lakukan karena terpaksa dan tentu hasilnya juga tidak sebagus bila keinginan dan dengan kesadaran sendiri tentunya .... he3x.

Baru sekarang saya pahami arti hukuman itu.

Kunyah baik-baik dan makan dengan santai, bahasan soal hal ini sebenarnya sudah lama juga saya baca pada novel Tetsuko Kuroyanagi, Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela. Bila tertarik bisa di dapatkan versi pdf-nya disini.

Saya membaca novel tersebut saat sekolah menengah atas dan saya tidak memahaminya, hanya sekedar membaca.

Saya pernah mendengar kalimat begini, saat kita ingin menerima sebuah pengetahuan baru sebaiknya kita kosongkan dulu pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki sebelumnya, agar ada cara pandang baru mengikuti.

Tentu hal tersebut tidaklah mudah, karena berkaitan dengan ego kita utamanya, belief system dan masih banyak lagi lainnya.

Saya pikir itulah yang terjadi dulu pada saya ... he3x. Adanya hanya penyangkalan-penyangkalan belaka.

Ramadhan adalah saat tepat untuk belajar melambat bagi saya. Belajar mengunyah pelan-pelan.

Belajar menundukkan ego serta belajar mengenal dan mendengarkan suara tubuh saya.

Karang Balik, Maret 2016



Jumat, 10 Juni 2016

Pasang dan Keceriaan

Tarakan adalah pulau kecil yang dikelilingi laut. Kemana pun kita menuju ya menthok-menthok-nya ketemu laut.

Seorang kakak tingkat kuliah dan teman di facebook pernah mengomentari hasil ambil gambar saya, kenapa mayoritas selalu berhubungan dengan air. Lha, gimana lagi ... ha3x.

Saya yang dibesarkan di daerah dataran rendah dengan kultur pertanian tentu sangat asing dengan kultur laut. Laut bagi saya adalah suatu hal yang baru.

Adat dan cara hidup masyarakat laut berbeda dengan saya tentunya. Begitu pula belief system yang dianut.

Hal unik yang memperluas cara pandang dan wawasan saya.

Peredaran bulan sangat berpengaruh pada kultur masyarakat laut, karena berkaitan dengan pasang surut air laut.

Pada kultur masyarakat petani tradisional (yang masih menganut sistem bercocok tanam berdasarkan almanak) ada pengaruhnya juga.

Teman kantor saya bercerita bila air pasang harga ikan biasanya mahal di pasar. Saya baru tahu bahwa saat pasang/purnama ternyata ikan lebih sulit dicari.

Saya perhatikan, para nelayan selalu memberi penerangan lebih saat memancing. Ternyata selain untuk memudahkan mereka saat memasang umpan, penerangan itu berguna untuk memancing plankton-plankton agar mendekati sekitar kapal,

Otomatis jika plankton-plankton berkumpul di sekitar kapal maka ikan-ikan predator pun akan mengikuti makanannya.

Saat bulan purnama, cahaya lampu nelayan kalah terang dengan cahaya bulan membuat usaha nelayan mengumpulkan plankton dengan bantuan cahaya lampu gagal total.

Kala purnama, arus air laut juga cenderung lebih kencang daripada biasanya, arus yang kencang itu membuat plankton-plankton berpindah lokasi dengan cepat bahkan tidak menentu. Itulah yang jadi penyebab ikan lebih susah didapat.

Namun, pasang berarti keceriaan anak-anak. Mereka bebas berenang atau pun bermain perahu dengan riang.

Hal yang sering saya saksikan kala pasang tiba.


Beringin, Tarakan, 2014

Beringin, Tarakan 2014


Beringin, Tarakan 2014
Kesibukan kala pasang, Tengkayu 2 2014

Kamis, 09 Juni 2016

Halaman Belakang Kantor Dunia Kecil nan Sunyi


Sejak piyik, saya sudah suka membaca. Maklum orang tua dua-duanya guru, dan kegemaran itu diturunkan dari ayahnya bapak.

Bapak saya tentu gemar membaca. Sejak SD saya sudah kenal banyak komik dan majalah anak seperti Deni, Manusia Ikan. Pak Janggut, Majalah Bobo, Majalah Ananda, Si Kuncung dan banyak lagi .

Menginjak sekolah menengah menengah semakin beragam bacaan saya. Buku sastra mulai masuk, berawal dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah Kami-nya NH. Dini, itu yang masih melekat di ingatan, saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang.

Saat rekan-rekan admin XPI membahas tentang mini 4-WD, terus terang saya tidak paham sama sekali. Bukan dunia saya.

Saya ingat dulu mainan itu sering ditayangkan iklannya saat saya lihat Doraemone di masa awal televisi swasta ada, di rumah tetangga saya. Maklum televisi kami tidak bisa menerima siarannya.

Mainan mahal, bagi anak-anak orang kaya begitu pikiran saya saat itu. Saya lebih akrab dengan kumpulan majalah bekas atau buku yang dipinjam dari sekolah, atau waktu saya habis di sawah.

Kemungkinan hal itulah yang membuat saya jadi seorang pemimpi ... ha3x.

Belakang rumah NH. Dini dengan padang ilalang dan ingatannya tentu tidak berhubungan dengan saya, apalagi halaman belakang kantor saya ... iyalah ...ha3x

Kami dari generasi yang berbeda.

Halaman belakang kantor adalah tempat saya berimajinasi, bertemu dengan dunia kecil yang menarik. Apalagi saat compact kamera saya sudah dapat dipakai mengambil gambar macro.

Di tempat itu yang berbatasan hutan kota, saya temukan tempat menjauh sejenak dari kejenuhan pekerjaan dan lumayan sunyi.

Bila halaman belakang rumah NH. Dini merupakan tempat bersembunyi tetangga-tetangganya, halaman belakang kantor adalah tempat saya memasuki dunia kecil sunyi yang berbeda.


Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan 2016


Gadis 1, Tarakan, 2016

Gadis 1, Tarakan 2016

Gadis 1, Tarakan  2016


Gadis 1, Tarakan 2016

Selasa, 07 Juni 2016

Petromaks dan Ceret Ajaib

Seorang pengarang pernah mengatakan, masa lalu adalah sebuah negeri asing. Senantiasa asing.

Kita, yang hidup hari ini, tak akan pernah kenal benar dunia luar dan dalamnya, jalan raya dan jurang-jurangnya, penghuni dan perkakasnya.

Begitu Goenawan Mohamad menulisnya pada catatan pinggir dengan judul Sejarah, 21 Oktober 2013 silam.

Ingatan datang dari gua yang gelap; ia bahkan bagian dari gua itu. Ketika kita menampilkannya di bawah cahaya yang menyorot, sepatutnya kita tahu ia telah berubah.

Hal yang sama saya alami saat menjejak kembali ingatan dan kenangan saya saat mudik bulan Mei 2016 kemarin. Saya tidak mengenal mungkin bahkan mengingat semua detail yang pernah ada.

Seringkali ingatan dan kenangan mempengaruhi objek sasaran ambil gambar saya. Sekedar bernostalgia dengan ingatan yang makin kabur mungkin, demi menyenangkan batin saya sendiri.

Jadi tidak aneh bila objek yang saya ambil gambar tidak dipahami, atau dianggap penting/menarik bagi orang lain. Karena itu personal ingatan samar saya dengan masa lalu saya.

Komunikasi batin antara saya dengan diri saya sendiri.

Satu malam saat lagi antri beli tahu campur (sebetulnya tahu tek kalau di Surabaya), sambil duduk saya terpaku melihat sebuah teko (ceret dalam jawa). Permukaan luarnya berembun, saya tahu ada es batu didalamnya.

Ingatan saya kembali ke masa lalu. Dulu hubungan saya dan ceret yang ukurannya persis seperti itu atau yang ukurannya lebih besar sangatlah dekat.

Sewaktu sekolah dasar hingga sekolah menengah saya sering diajak ke sawah mulai mengantar makanan pagi, kadang siang di sawah buat para pekerja.

Bila siang juga sambil menenteng ceret, yang seringnya berisi air dengan es batu, buat pekerja di sawah.


Ceret, Tarakan 2016

Sabtu, 04 Juni 2016

Ikatan

Ikatan emosi adalah sesuatu yang selalu unik untuk dicermati. Entah itu antara individu dengan orang tuanya, individu dengan teman temannya, maupun antar lingkungannya.

Saat turun ke jalan tanggal 23 November 2014, berkaitan dengan adanya parade/karnaval memperingati ulang tahun kota, saya sengaja mengambil gambar dengan tema itu.

Beberapa pengalaman melihat keramaian, ada hal-hal yang unik tentang ikatan yang terjadi di ruang publik. Apakah masuk kategori street photography atau tidak bagi saya tidak masalah.

Saya tertarik mengabadikannya ...

Di tepi jalan, 2014

Bersama, 2014

Menyeberang, 2014

Tiup, 2014

Menyusu, 2014

Dengan Ayah, 2014

Smile, 2014

dengan anak perempuanku, 2014

Dekap, 2014

pada pundak ayah, 2014

with mom, 2014

diantara kaki-kaki, 2014

Melongok, 2014

taking a picture, 2014



Jumat, 03 Juni 2016

Patrem

Bintang berpendar di langit. Rembulan bagai semangka berwarna kuning di atas kepala.

Namun, malam ini terasa begitu sunyi. Tidak ada angin yang asyik bermain dengan dedaunan. Tidak ada suara jengkerik yg menjerit meriuhkan malam.

Pintu-pintu rumah juga tertutup sejak sore. Sepi. Malam seperti memberi tanda bahwa akan ada pencuri atau nyawa yang bakal tercabut dari raga.

Harum bau bunga-bunga mangga yang sedang mekar mengambang layaknya kabut. Harum itu memenuhi setiap jengkal halaman tempatku berdiri saat ini berselimut hitam jubah sang malam.

Anakku Telaga sudah tertidur pulas sejak sore di kamarnya.

Dari arah barat lirih angin membawa suara gamelan tayup, yang membuat pikiranku dipermainkan kenangan.

Kenangan

Layaknya mengejar matahari
yg selalu tergelincir di horison pantai

Menyisakan merah seperti darah
yang hilang ditelan ruang

Pertemuan hanyalah kiasan perpisahan
seperti cahaya yang terbiaskan
oleh jantera putar masa

Diujungnya kau lihat bagaimana nasib
mencandai dan tertawa gembira
atas derita kita....

Jangan coba memaksakan makna
karena masa adalah tuannya

Kenangan tidak seperti kertas
yg mudah terbakar oleh nyala sekam.




Bingkai Waktu

Kita selalu mencoba membingkai waktu
menghentikan gerak, kepak dan jejak
menabur senyum dikuncup-kuncup lensa
berharap pada kilat karena mata tak lagi mengingat


Kita tak pernah bosan bermimpi
menghentikan detik, rintik dan ritmik
menetap di sebuah titik
tanpa kata tanpa bisik


Akankah kita bertanya tentang waktu
yang tak pernah berdusta
akan makna di setiap untaian kata?

Bukan yang dulu bukan yang nanti
dan tak bakal terulang lagi.





Foto macro pertama dari compact camera

Setelah saya mendapat conversion adapter tube, couple makro ring (male to male), dan lensa canon 50mm 1.8 II, peralatan buat bikin foto macro sudah lengkap.

Percobaan pertama pada halaman parkir belakang kantor. Memang bukan padang ilalang, semak atau rerumputan namun pada paving parkir dan kebetulan berbatasan dengan hutan kota.

Saya sengaja mengambil area sekitar tumpukan daun-daun yang jatuh dan paving yang berlumut.

Setidaknya dengan lantai paving/keras saya bisa menumpukan lensa sehingga shake yang terjadi pada kamera compact saya menjadi minimal.

Bercucuran keringat akibat menahan napas, konsentrasi pengaturan fokus yang tepat pada objek, dianggap dan dipandang aneh oleh orang lain lumayan menguras energi ... ha3x.

It's Oke. Yang pentingkan tidak merugikan atau mengganggu siapapun... ha3x

Beberapa foto macro pertama saya yang saya ambil dengan menggunakan compact kamera.






Kamis, 02 Juni 2016

Jasa pembelian barang online dari luar negeri

Keinginan memiliki conversion adapter tube 52 mm untuk compact kamera tidak bisa dibendung. Saya mencoba googling dan menemukan penjualnya disini.

Sayang sudah tidak aktif lagi, berarti terjual. Saya tidak menyerah dan terus mencari.

Umumnya yang dijual dalam negeri adalah adapter compact kamera seri sebelumnya atau pun ring adapter ukuran 37mm.

Untuk menggunakan ring adapter ukuran 37 mm menurut saya riskan karena langsung menempel pada lensa kamera yang rapuh. Besar kemungkinan merusak lensa kameranya bila diberikan beban berlebih.

Dan saya tidak mau ambil resiko itu.

Sebenarnya beberapa situs belanja online luar negeri ada yang jual seperti disini. Hanya saja saya belum pernah punya pengalaman beli barang dari situs online luar negeri. Kartu kredit juga tidak punya.

Saya memiliki akun paypal dan tentu saya harus mengisinya terlebih dahulu akun tersebut. Dari googling saya tahu ada penyediaan jasa pengisian akun paypal sehingga  bisa untuk belanja.

Googling juga menginformasikan jasa pembelian barang dari luar negeri. Lebih simple, buat yang tidak ingin repot seperti saya.

Namun, tentu ada tambahan biaya. Banyaknya pihak yang menawarkan jasa pembelian barang dan tentunya menemukan orang yang tepat serta terpercaya bagaikan mencari jarum dibawah tumpukan jerami.

Try and error harus dijalani. Saya memilih mencobanya, dan kebetulan pilihan saya tepat.

Saya berkomunikasi via e-mail dan whattaps. Dan penyedia jasanya dapat dipercaya. Bila tertarik bisa kesini


Gambar saya ambil dari situs amazon.com


On Street Photography

Berkelana di blog Eric Kim seolah serasa dalam perpustakaan bagi saya. Namun, terasa ada barrier setelah melihat foto-foto keren dan lokasi pengambilan fotonya.

Saya merasa seperti biji-biji dandelion yang dilempar oleh angin ke sebuah negeri antah berantah. Saya merasa tidak punya pijakan, tidak mengakar.

Negeri saya posisi mataharinya jelas berbeda dengan negeri-negeri yang menjadi lokasi pengambilan gambar om Eric Kim. Musim, budaya dan tata kotanya juga.

Seolah-olah mustahil bila saya terapkan di kota kecil tempat saya tinggal. Ehm ... atau ini hanya excuse saya saja ... ha3x.

Seorang cakil kecil tiba-tiba muncul dan dan berceletuk keras dalam batin.

Saya gembira sekali saat ada realease buku street photography karangan om Erik Prasetya. Sebenarnya saya lebih dulu kenal novel karya  istrinya; Saman dan Larung.

Buku On Street Photography memberikan pengantar street photography; mulai pendekatan, teknik, serta masalah etika dan estetikanya. Juga ada beda snapshot, human interest, travel photography dan street photography.

Saya membelinya 26 November 2014 lalu bersama buku referensi fotografi lainnya, masih pengarang yang sama, Street, Rain, & Style. Bila Anda tertarik bisa kesini untuk membelinya.

Setidaknya ada jalan untuk membuka sedikit demi sedikit 'pekerjaan rumah' saya untuk membuat gambar yang bercerita.


Gambar saya ambil dari ww.goodreads.com

Rabu, 01 Juni 2016

Abandoned forest

Hutan ini terletak di kelurahan Karang Harapan dikelola dibawah Inhutani. Kawasan wisata alam dengan luas 95 hektare.

Pernah jadi destinasi utama wisata di Tarakan, namun kini telah ditinggalkan. Jadi jangan heran bila memasuki gerbang depannya, yang tampak seolah tidak terawat.

Pengunjungnya pun sepi. Hanya beberapa orang bisa dihitung dengan jari. Sesekali masih digunakan sebagai tempat outbond, kemah, belajar golf ataupun lokasi pengambilan foto pre wedding.


Tepat di samping kanan gerbang bagian dalam terdapat pos jaga dan tak jauh melangkah dari arah gerbang menuju ke dalam, tepatnya di sebelah kiri jalan berdiri sebuah papan reklame yang menggambarkan denah lokasi Wana Wisata tersebut.
Dari denah tersebut, kita bisa mengetahui posisi atau lokasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti taman satwa, kebun anggrek, bumi perkemahan, kolam pancing, tempat bermain anak-anak, tempat bermain golf dan beberapa tempat santai seperti kantin, persemaian, hutan pinus dan hutan agatis.
Wow… pasti seru berwisata di sini. Bayangan kita jika melihat papan petunjuk itu. Tapi itu dulu.
Sekarang semua fasilitas itu sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya bekas-bekasnya. Seperti kandang hewan yang tak terurus, pot-pot bunga anggrek yang tak ditanami lagi dan lain-lainnya.
Lebih jauh ke dalam, pemandangan teduh diarena tersebut sangat meyejukkan mata. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terdukung oleh fasilitas yang mamadai, seperti perawatan rumput di bawah rindangnya pepohonan, serta kursi taman dan tempat bersantai lainnya hampir tidak ada ditemui.
Mencoba menjelajah lebih ke dalam wana wisata tersebut, dan setelah melalui ridangnya pepohonan pinus dan agatis, terdapat sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai kecil.
Di seberang jembatan, akan ditemui tiga buah rumah sederhana tempat tinggal para pengawas yang bertugas di wana wisata tersebut. Tepat di belakang jejeran rumah pengawas, terdapat 7 buah kandang satwa yang pernah menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berlibur.  
Kandang aneka burung dan kandang beruang madu, monyet, semua tampak tidak terawat dan beberapa bagian dinding kandang sudah rusak. Menurut informasi, beberapa tahun silam di taman satwa tersebut terdapat berbagai macam satwa yang ditangkar dari alam liar seperti gajah, jerapah dan beberapa jenis satwa lainnya.
Tulisan diatas saya ambil dari blog ini.

Beruntung waktu saya datang ke Tarakan dan bertemu dengan wana wisata persemaian sudah dalam keadaan tidak terurus dan ditinggalkan.

Bagi saya tempat ini tetap menyenangkan untuk sekedar dikunjungi memanjakan mata melihat warna hijau, mendengar suara burung dan tempat latihan mengambil gambar.

Apalagi pada dasarnya saya suka sendiri, sunyi dan tidak begitu suka keramaian.

Kadang teman-teman kerja saya juga heran apa yang dilihat disana. Soalnya tidak ada apa-apa seperti dulu, hanya tinggal sepi dan terasa seram.

Kalau soal itu saya akui sih, sampai bawa bekal garam dalam kantong segala awalnya ... ha3x.

Namun bagi saya masih banyak keindahan yang tersembunyi yang bisa ditemukan oleh lensa compact kamera saya.









Tyriobapta torrida (Kirby, 1889) / Treehugger

Pertemuan pertama dengan capung ini saat saya diajak hunting bersama dengan Ayahnya Cakrabuwana di wanawisata persemaian.

Capung ini tidak terlalu sensitif atas kehadiran manusia. Sehingga lumayan mudah diambil gambar. Saat itu saya bertemu dengan capung betina.

Untuk identifikasi jenisnya saya dibantu teman facebook yang orang dari LIPI, mbak Pungki, dengan cara saya kirimkan foto lewat e-mail.


Spesies ini umum ada pada hutan pada dataran rendah/ berawa (tapi jarang di hutan yg benar-benar rawa) dan pada kolam hutan.

Paling umum di dataran rendah, tetapi telah ditemukan jg pada 1.000 m di kisaran Tama Abu di Sarawak (R.Dow pers. Comm. 2011).

Toleran terhadap setidaknya beberapa gangguan pada habitatnya, dan telah ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Semenanjung Malaysia (C.-Y. Choong pers. Comm. 2011).


Termasuk capung dengan ukuran sedang. Panjang sayap = 64mm. Panjang tubuh keseluruhan= 36mm.

Suka hinggap pada batang pohon, baik hidup atau yang tidak, lalu terbang dan menempel lagi pada pohon.

Bila terasa terusik atau bosan suka melompat-lompat (terbang dan hinggap pd bagian pohon yg lebih tinggi).

Betina umumnya suka hinggap pada area rendah, dan jantan (lebih sensitif bila dibanding betina) suka hinggap pada ketinggian diatas kepala manusia.


Ditemukan pada hutan/daerah dg cahaya matahari kurang/teduh di daerah Sumatera dan Kalimantan.


Adult Male

Bentuk ujung ekor adult male

Famale

Ujung ekor female

Vivian Maier dan porak-porandanya pikiran saya

Saya membaca mengenai Vivian Maier ketika mencari bahan bacaan tentang street photography. Awalnya google yang mengenalkan saya dengan blog Eric Kim, dan saya suka blog itu pake banget.

Banyak hal tentang fotografi yang bisa saya pelajari dari blog tersebut, terutama tentang street photography. Tertarik? Bisa langsung kesini ya...

Vivian Maier, adalah seorang sosialis, feminis, kritikus film dan a tell-it-like-it type of person. Perempuan ini berkenalan dengan fotografi tahun 1949. Pekerjaannya sebagai pengasuh anak (nanny).

Satu pelajaran yang paling berharga menurut Eric Kim di blognya tentang Vivian Maier adalah ambil gambar untuk dirimu sendiri. Ada empat point lagi yang tidak kalah menarik. Lebih jelasnya ada disini.

Maier tidak pernah menunjukkan hasil karyanya pada orang lain. Ia mengambil gambar hanya untuk dirinya sendiri. Hingga John Maloof menemukan hasil karyanya.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui motivasi dia mengambil gambar dengan genre street photography, ia tidak pernah memberitahukan pada siapapun.

Bahkan rekaman suaranya juga tidak ada. Ia benar-benar mengambil gambar untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Point pertama inilah yang banyak mengubah pandangan saya tentang fotografi. Saya kembali menanyakan pada diri, sebenarnya apa tujuan dasar saya menggeluti hobby ini?

Untuk kepuasanmu sendiri ataukah demi tepuk tangan riuh dari orang lain?

Cakil-cakil tiba-tiba bermunculan dan bertebaran di dalam pikiran saya. Riuh bertanya pada nurani saya.





Selasa, 31 Mei 2016

Naga terbang yang memukau

Perkenalan saya dengan capung membuat saya ingin terus belajar tentang serangga jaman purba ini. Ragam dan keindahannya memukau saya.

Saat saya kecil bila musim hujan drainase jalan (kalenan; dalam jawa) depan rumah orang tua saya terisi oleh air. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan kering saat kemarau.

Pada drainase yang letaknya di ujung jalan buntu, bagian dekat ladang sering terdapat capung jarum beragam warna.

Saya suka mengamatinya. Gerakan terbang mereka berputar, kadang maju atau mundur. Dan hinggap dengan anggunnya pada dedaunan.

Pada beberapa kebudayaan capung begitu dihargai. Bagi orang jepang capung, yang mereka sebut tombo adalah simbol keberanian. Simbol capung juga dapat ditemukan dalam samurai mereka.

Masyarat di pulau Kabena memandang capung dengan prespektif yang berbeda. Sebutan capung di daerah itu adalah Tasi'A.

Bagi mereka tasi'a akan selalu memberi informasi secara alami tentang vegetasi hutan; pergantian musim, kondisi air, dan kondisi lingkungan hutan.

Jika masyarakat Kabaena tidak melihat ada tasi'a yang hidup di suatu sungai maka masyarakat tidak akan mengkonsumsi air sungai tersebut karena berarti sungai itu tidak bersih. Lebih jelasnya bisa dibaca disini.

Saya mulai belajar mengidentifikasi capung. Biasanya mencari gambar yang mirip dari googling.

Bila menemukan jenis dan nama spesiesnya ada rasa bahagia. Menambah pengetahuan saya tentang habitat dan perilaku mereka, ternyata hal ini menyebabkan kecanduan serta meningkatnya rasa ingin tahu saya tentang spesies capung lainnya yang ada di Tarakan.

Akhirnya saya menemukan komunitas pecinta capung di sebuah group facebook, Banyak ilmu tentang capung yang bisa dipelajari disana. Bila Anda tertarik bisa saja langsung kesini saja.

Saya juga menemukan blog menarik yang mampu menambah pengetahuan saya tentang capung. Berisi tentang capung yang ada di Singapura; dengan foto-foto indah beserta informasi habitat, jenis kelamin dan nama spesiesnya. Langsung saja kesini dan dijamin tidak menyesal.

Beberapa buku tentang capung terbitan Indonesia sudah ada beberapa, meski tidak terlalu banyak. Salah satunya Naga Terbang dari Wendit yang diterbitkan oleh Indonesia Dragonfly Indonesia.

Saya memilikinya :)

Gambar milik mbak Magdalena Putri, saya ambil dari akun twitter @magda_putri



Melihat senja, melihat drama

Senja selalu menarik untuk dilihat. Saya tidak pernah bosan menikmatinya. Sinar matahari yang lembut dan kecondongan matahari membuat benda-benda tampak berisi dan lebih indah. Mungkin karena itulah digolongkan dalam kategori waktu golden hour.

Setelahnya juga masih waktu yang bagus untuk mengambil gambar, saat langit membiru sesaat setelah matahari lenyap (blue hour). Waktu yang satu ini jarang saya nikmati karena alasan personal.

Pelabuhan tengkayu 2 juga menarik dikunjungi kala menjelang senja. Biasanya ada kegiatan bongkar muat barang ke kapal. Dan unik menurut saya untuk diambil gambar.

Siluet yang tercipta cukup dramatis. 

Dalam hal ini kebiasaan saya menonton wayang kulit sejak kecil sepertinya banyak berpengaruh.

Dalam ingatan saya gerakan-gerakan yang tercipta dari cahaya blencong, kayon/layar dan ukiran halus kulit sapi yang disungging membentuk karakter itu seolah hidup.

Melompat dan bergerak di imaji saya diiringi alun mistik gamelan. Berkisah tentang satria dari negeri-negeri tua yang kerap didongengkan leluhur kami.

Kenangan itulah yang mungkin membuat saya menyukai siluet kala senja.