Tampilkan postingan dengan label saku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

Kenduri dan Pertanyaan Kyai

Sore ini saya baca sebuah artikel tentang hal yang sempat heboh di social media. Saya suka artikelnya, bila Anda tertarik bisa dibaca disini.

Sudut pandang artikel tersebut menarik menurut saya. Seperti biasa saya lalu jadi baper, kotak ingatan masa lalu tumpah ruah.

Kenduri (atau saya sering nyebutnya slametan) adalah hal yang sering keluarga saya lakukan, apalagi orang tua saya masih memegang adat Jawa.

Siklus hidup manusia jawa tidak bisa lepas dari yang namanya slametan. Dimulai sejak dalam kandungan hingga meninggal, beragam acara slametan diadakan.

Intinya cuma satu memohon agar selalu selamat dan bersyukur atas karunia Tuhan.

Suatu saat kala saya main ke rumah kyai saya, beliau sempat membahas slametan ini. Bukan tentang uba-rampe-nya (hal-hal yang harus ada dalam sebuah kenduri, dalam adat jawa saat kenduri kadang berbeda-beda makanan yang harus ada tergantung peruntukan kenduri) namun lebih pada pembagian berkat (makanan yang dibagikan saat kenduri).

Saat itu beliau bertanya pada saya, siapa yang seharusnya pertama kali (prioritas utama) mendapatkan berkat tersebut. Bila sudah begini, saya biasanya super hati-hati menjawab.

Seringnya saya malah diam sambil senyum tolol ... he3x.

Saya menjawab kebiasaan di keluarga kami saat kenduri, yang didahulukan adalah bagian dapur. Kami sering kali meminta bantuan tetangga (yang menyediakan jasa/tenaga untuk memasak) kadang dua sampai tiga orang selama tiga hari dan masih dibantu saudara sepupu atau saudara bapak saya.

Tentu mereka ini tidak sempat memasak untuk di rumah sendiri. Untuk saudara pasti ada hantaran makanan selain diundang kenduri.

Kemudian kyai melanjut lalu siapa lagi.

Saya jawab tetangga, orang masjid, janda-janda dan terakhir orang yang tidak datang. Untuk dua yang terakhir kami antarkan. Kadang ditambah bekas guru bapak saya saat SD dan kenalan baik.

Kemudian kyai menjelaskan bahwa dalam kenduri itu yang utama dapat berkat adalah bagian dapur. Orang yang memasak. Karena tanpa mereka beras tidak bisa jadi nasi, bahan mentah tidak bisa jadi makanan.

Kemudian baru janda-janda apalagi bila tidak punya. Lalu tetangga sekitar karena bila kita kesusahan tetangga sekitar juga yang pertama menolong.

Dan terakhir adalah orang-orang masjid. Sering kali urutan itu terbalik. Menurut beliau semua orang bisa berdoa, bukan hanya para ulama saja yang bisa.

Saya hanya senyum. Saya tahu kemana arah kyai berbicara dan apa maksud serta maknanya.

Hal yang mirip juga pernah saya lihat di kantor. Pedagang makanan sering masuk kantor kami. Salah satunya adalah penjual roti.

Kebetulan teman kantor saya ada yang sangat mengenalnya, sehingga ia berani menggodanya. Penjual ini suka menabung untuk berdana korban perang di luar negeri.

Teman kantor ini suka menasehatinya, untuk apa memberi santunan pada yang jauh padahal masih banyak yang membutuhkan santunan disekitar kita.


Jl Jendral Sudirman, Tarakan  2016

Rabu, 08 Juni 2016

HDR dan sebuah kompensasi

Sejak saya sekolah pelajaran seni adalah momok bagi saya selain pelajaran ketrampilan. Nilai dua pelajaran tersebut ala kadarnya saja.

Ikut paduan suara juga pernah, lolos karena yang ikut tidak banyak. Dan kualitas suara saya saat menyanyi juga tidak begitu bagus, meso-meso (misuh-misuh) kata pelatihnya sambil bercanda.

Mungkin saya tidak berbakat dalam bidang seni.

Namun saya tidak peduli, masih juga suka menyanyi seolah saya adalah Josh Groban, Aditya Sofyan, Christopher Abimayu, Sujiwo Tedjo bahkan Mpok Ati kali yang terakhir ... ha3x

Saya menyukai gambar sejak dulu. Kegemaran lama saya adalah mengoleksi perangko, souvenir sheet (carik kenangan), dan kadang sampul hari pertama.

Itupun tidak kontinyu dan akhirnya berhenti karena perlu biaya lumayan besar menurut ukuran kantong saya.

Ada istilah HDR dalam ranah fotografi dimana Anda bisa memperluas rentang dinamik foto, membuat rentang warna dan cahaya yang lebih besar daripada yang dihasilkan kamera digital dan menghasilkan imaji yang lebih mirip ditangkap oleh mata manusia .

Imagi HDR bisa dibuat dari kamera atau aplikasi editing.

Awal kenal imaji HDR (High Dynamic Range)  dari bukunya Scoott Kelby; The Adobe Photoshop CS6 book.

Seperti biasa saya terkagum-kagum. Kok bisa ya ...

Buku itu memberikan tips cara mengubah gambar realis jadi agak-agak serealis dengan HDR... kalau bahasa saya mirip seperti lukisan.

Sayapun mencobanya dan hasilnya ... saya berkhayal bahwa saya seorang pelukis ... ehm  Joko Pekik setidaknya ... he3x


THM, Tarakan 2014
Tengkayu 1, Tarakan 2014

THM, Tarakan 2014


SMAN 1, Tarakan 2016





Minggu, 05 Juni 2016

Sunyi

Kidung gatha tisarana menggema
ketika sukma dan raga menyatu semesta
membisikkan dharma manusia

masihkah harus bertanya
tentang surga dan neraka

tentang kala dan pandita,
dan guna kata-kata


jadilah kesunyian abadi
seperti mata yang selalu mengenali

sebelum jantra berhenti dan harus kembali
ke tempat semua yang hidup dan yang mati
saling menuai dan melunasi janji



Sabtu, 04 Juni 2016

Ikatan

Ikatan emosi adalah sesuatu yang selalu unik untuk dicermati. Entah itu antara individu dengan orang tuanya, individu dengan teman temannya, maupun antar lingkungannya.

Saat turun ke jalan tanggal 23 November 2014, berkaitan dengan adanya parade/karnaval memperingati ulang tahun kota, saya sengaja mengambil gambar dengan tema itu.

Beberapa pengalaman melihat keramaian, ada hal-hal yang unik tentang ikatan yang terjadi di ruang publik. Apakah masuk kategori street photography atau tidak bagi saya tidak masalah.

Saya tertarik mengabadikannya ...

Di tepi jalan, 2014

Bersama, 2014

Menyeberang, 2014

Tiup, 2014

Menyusu, 2014

Dengan Ayah, 2014

Smile, 2014

dengan anak perempuanku, 2014

Dekap, 2014

pada pundak ayah, 2014

with mom, 2014

diantara kaki-kaki, 2014

Melongok, 2014

taking a picture, 2014



Jumat, 03 Juni 2016

Patrem

Bintang berpendar di langit. Rembulan bagai semangka berwarna kuning di atas kepala.

Namun, malam ini terasa begitu sunyi. Tidak ada angin yang asyik bermain dengan dedaunan. Tidak ada suara jengkerik yg menjerit meriuhkan malam.

Pintu-pintu rumah juga tertutup sejak sore. Sepi. Malam seperti memberi tanda bahwa akan ada pencuri atau nyawa yang bakal tercabut dari raga.

Harum bau bunga-bunga mangga yang sedang mekar mengambang layaknya kabut. Harum itu memenuhi setiap jengkal halaman tempatku berdiri saat ini berselimut hitam jubah sang malam.

Anakku Telaga sudah tertidur pulas sejak sore di kamarnya.

Dari arah barat lirih angin membawa suara gamelan tayup, yang membuat pikiranku dipermainkan kenangan.

Bingkai Waktu

Kita selalu mencoba membingkai waktu
menghentikan gerak, kepak dan jejak
menabur senyum dikuncup-kuncup lensa
berharap pada kilat karena mata tak lagi mengingat


Kita tak pernah bosan bermimpi
menghentikan detik, rintik dan ritmik
menetap di sebuah titik
tanpa kata tanpa bisik


Akankah kita bertanya tentang waktu
yang tak pernah berdusta
akan makna di setiap untaian kata?

Bukan yang dulu bukan yang nanti
dan tak bakal terulang lagi.





Kumenunggu ...

Saya transaksi pada tanggal 15 Februari 2016. Sebelumnya penyedia jasa sudah beritahu bahwa ongkir tiga kali lipat dari harga barang.

Karena ingin, ya saya iyakan saja. Harga barangnya $12.90 dan ongkirnya $39.00 sehingga total $52.00.

Menunggu adalah masa yang membosankan. Penyedia jasa bilang tanggal 10 Maret 2016 barang akan sampai. Tracking number juga sudah dikirimkan pada saya.

Namun hingga tanggal 15 Maret 2016 barang tidak nongol juga, saya sudah coba cek di kantor pos juga belum ada. Saya kemudian cek tracking number pada situs pos Indonesia dan tidak saya temukan.

Di kemudian hari, saya baru mengerti bahwa pengiriman yang bisa dilacak di situs pos indonesia adalah jenis EMS.

Lalu saya memcoba tracking secara online ternyata hanya terlacak perjalanan barang sampai kantor pos Amerika Serikat saja.

Setelah itu raib. Diantara keraguan akan menunggu, saya googling dan agak mengerti tentang sistem pengiriman barang pada kantor pos Amerika Serikat.

Pengiriman barang pesanan saya yang menggunakan Priority Mail memang hanya bisa dilacak perjalanannya saat di kantor pos Amerika Serikat saja.

Ada jenis pengiriman barang yang bisa dilacak baik pada kantor pos Amerika Serikat maupun kantor pos Indonesia yaitu Express Mail Service (EMS) dan tentu biayanya lebih mahal.

Tentang jenis pengiriman lebih jelasnya bisa dibaca disini.

Baru tanggal 24 Maret 2016 barang datang, padahal penyedia jasa pembelian sudah melayangkan surat keluhan karena terlambatnya pengiriman.

Aturan perpajakan pembelian barang dari luar negeri diatas $50 terkena pajak. Saat itu saya kena pajak Rp. 7.300,00.

Sekarang sepertinya pajaknya sudah naik.

Aturan jual beli di Amazon.com bila hingga 10 hari barang belum juga diterima/terlambat pembeli bisa mengajukan complain dan opsinya biasanya barang dikirim ulang atau uang dikembalikan oleh penjual.

Sehingga disarankan membeli dari penjual yang punya reputasi bagus. Saya dari awal memilih penjual dengan reputasi bagus, dan hal itu terbukti.

Tanggal 31 Maret 2016 ada kiriman saya terima dari A & R Photo Inc dari Brooklyn, New York. Isinya barang pesanan saya.

Sepertinya tindak lanjut dari complain yang diajukan karena keterlambatan pengiriman.















Kamis, 02 Juni 2016

Macro fotografi dan compact kamera

Sudah lama sebenarmya saya tertarik dengan macro fotografi. Bahkan sejak sebelum jadi satpam di XPI.

Rekan di facebook yang sering posting foto macro dan di group odonata juga. Namun mencoba mengambil foto macro saya lakukan saat bergabung dengan XPI.


Salah satu rekan admin memberi saya lensa bongkaran (lensbong) yang membuat saya bisa mengambil gambar dengan smartphone. Di group XPI postingan makro juga bertebaran.


Namun, jujur...mengambil gambar dengan smartphone dan compact kamera beda buat saya. Saat mengambil gambar dengan compact kamera, saya merasa seperti larut dan masuk ke dalamnya.


Mungkin karena logika atau kedekatan personal dengan saya dengan compact kamera lebih erat dibanding dengan smartphone. Padahal dua-duanya selalu menyertai saya.


Keinginan untuk bisa mengambil gambar macro dengan compact kamera terus menggebu. Berawal dari belfot.com saya baca artikel tentang Alexey Kljatov yang mengambil gambar macro kepingan kristal salju dengan compact kamera. Lengkap ulasannya ada disini.


Ia menambahkan lensa kit/50 mm secara terbalik plus reserve ring. Untuk memperkuat sambungan lensa, ia gunakan sepotong kayu sebagai penompang konstruksi, kain sebagai tali dan plastik hitam sebagai pelindung agar cahaya tidak bocor dan hanya masuk dari bagian depan rakitannya.


Kamera compact siap untuk dibauat mengambil gambar. Koleksi lengkap foto macro kristal salju karya Alexey disini.


Kemungkinan macro dengan compact kamera itu bisa. Beberapa tips menyarankan penggunaan lup sebagai pembesar atau menggunakan lensa bongkaran (lensbong) seperti yang diaplikasikan pada smartphone.

Dari forum di dpreview.com saya dapatkan bahasan bahwa ada adapter tube bagi compact kamera saya. Sehingga bisa buat macro ataupun birding. Ulasannya disini.

Adaptor tube dengan diameter 52 mm ini lebih aman daripada yang ada sebelumnya yaitu reverse ring dengan diameter 37 mm.

Rasanya saya tidak salah pilihan memilih compact kamera ini ....



Gambar saya ambil dari situs dpreview.com
Gambar saya ambil dari situs dpreview.com
Gambar saya ambil dari situs dpreview.com

On Street Photography

Berkelana di blog Eric Kim seolah serasa dalam perpustakaan bagi saya. Namun, terasa ada barrier setelah melihat foto-foto keren dan lokasi pengambilan fotonya.

Saya merasa seperti biji-biji dandelion yang dilempar oleh angin ke sebuah negeri antah berantah. Saya merasa tidak punya pijakan, tidak mengakar.

Negeri saya posisi mataharinya jelas berbeda dengan negeri-negeri yang menjadi lokasi pengambilan gambar om Eric Kim. Musim, budaya dan tata kotanya juga.

Seolah-olah mustahil bila saya terapkan di kota kecil tempat saya tinggal. Ehm ... atau ini hanya excuse saya saja ... ha3x.

Seorang cakil kecil tiba-tiba muncul dan dan berceletuk keras dalam batin.

Saya gembira sekali saat ada realease buku street photography karangan om Erik Prasetya. Sebenarnya saya lebih dulu kenal novel karya  istrinya; Saman dan Larung.

Buku On Street Photography memberikan pengantar street photography; mulai pendekatan, teknik, serta masalah etika dan estetikanya. Juga ada beda snapshot, human interest, travel photography dan street photography.

Saya membelinya 26 November 2014 lalu bersama buku referensi fotografi lainnya, masih pengarang yang sama, Street, Rain, & Style. Bila Anda tertarik bisa kesini untuk membelinya.

Setidaknya ada jalan untuk membuka sedikit demi sedikit 'pekerjaan rumah' saya untuk membuat gambar yang bercerita.


Gambar saya ambil dari ww.goodreads.com

Rabu, 01 Juni 2016

Abandoned forest

Hutan ini terletak di kelurahan Karang Harapan dikelola dibawah Inhutani. Kawasan wisata alam dengan luas 95 hektare.

Pernah jadi destinasi utama wisata di Tarakan, namun kini telah ditinggalkan. Jadi jangan heran bila memasuki gerbang depannya, yang tampak seolah tidak terawat.

Pengunjungnya pun sepi. Hanya beberapa orang bisa dihitung dengan jari. Sesekali masih digunakan sebagai tempat outbond, kemah, belajar golf ataupun lokasi pengambilan foto pre wedding.


Tepat di samping kanan gerbang bagian dalam terdapat pos jaga dan tak jauh melangkah dari arah gerbang menuju ke dalam, tepatnya di sebelah kiri jalan berdiri sebuah papan reklame yang menggambarkan denah lokasi Wana Wisata tersebut.
Dari denah tersebut, kita bisa mengetahui posisi atau lokasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti taman satwa, kebun anggrek, bumi perkemahan, kolam pancing, tempat bermain anak-anak, tempat bermain golf dan beberapa tempat santai seperti kantin, persemaian, hutan pinus dan hutan agatis.
Wow… pasti seru berwisata di sini. Bayangan kita jika melihat papan petunjuk itu. Tapi itu dulu.
Sekarang semua fasilitas itu sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya bekas-bekasnya. Seperti kandang hewan yang tak terurus, pot-pot bunga anggrek yang tak ditanami lagi dan lain-lainnya.
Lebih jauh ke dalam, pemandangan teduh diarena tersebut sangat meyejukkan mata. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terdukung oleh fasilitas yang mamadai, seperti perawatan rumput di bawah rindangnya pepohonan, serta kursi taman dan tempat bersantai lainnya hampir tidak ada ditemui.
Mencoba menjelajah lebih ke dalam wana wisata tersebut, dan setelah melalui ridangnya pepohonan pinus dan agatis, terdapat sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai kecil.
Di seberang jembatan, akan ditemui tiga buah rumah sederhana tempat tinggal para pengawas yang bertugas di wana wisata tersebut. Tepat di belakang jejeran rumah pengawas, terdapat 7 buah kandang satwa yang pernah menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk berlibur.  
Kandang aneka burung dan kandang beruang madu, monyet, semua tampak tidak terawat dan beberapa bagian dinding kandang sudah rusak. Menurut informasi, beberapa tahun silam di taman satwa tersebut terdapat berbagai macam satwa yang ditangkar dari alam liar seperti gajah, jerapah dan beberapa jenis satwa lainnya.
Tulisan diatas saya ambil dari blog ini.

Beruntung waktu saya datang ke Tarakan dan bertemu dengan wana wisata persemaian sudah dalam keadaan tidak terurus dan ditinggalkan.

Bagi saya tempat ini tetap menyenangkan untuk sekedar dikunjungi memanjakan mata melihat warna hijau, mendengar suara burung dan tempat latihan mengambil gambar.

Apalagi pada dasarnya saya suka sendiri, sunyi dan tidak begitu suka keramaian.

Kadang teman-teman kerja saya juga heran apa yang dilihat disana. Soalnya tidak ada apa-apa seperti dulu, hanya tinggal sepi dan terasa seram.

Kalau soal itu saya akui sih, sampai bawa bekal garam dalam kantong segala awalnya ... ha3x.

Namun bagi saya masih banyak keindahan yang tersembunyi yang bisa ditemukan oleh lensa compact kamera saya.









Tyriobapta torrida (Kirby, 1889) / Treehugger

Pertemuan pertama dengan capung ini saat saya diajak hunting bersama dengan Ayahnya Cakrabuwana di wanawisata persemaian.

Capung ini tidak terlalu sensitif atas kehadiran manusia. Sehingga lumayan mudah diambil gambar. Saat itu saya bertemu dengan capung betina.

Untuk identifikasi jenisnya saya dibantu teman facebook yang orang dari LIPI, mbak Pungki, dengan cara saya kirimkan foto lewat e-mail.


Spesies ini umum ada pada hutan pada dataran rendah/ berawa (tapi jarang di hutan yg benar-benar rawa) dan pada kolam hutan.

Paling umum di dataran rendah, tetapi telah ditemukan jg pada 1.000 m di kisaran Tama Abu di Sarawak (R.Dow pers. Comm. 2011).

Toleran terhadap setidaknya beberapa gangguan pada habitatnya, dan telah ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Semenanjung Malaysia (C.-Y. Choong pers. Comm. 2011).


Termasuk capung dengan ukuran sedang. Panjang sayap = 64mm. Panjang tubuh keseluruhan= 36mm.

Suka hinggap pada batang pohon, baik hidup atau yang tidak, lalu terbang dan menempel lagi pada pohon.

Bila terasa terusik atau bosan suka melompat-lompat (terbang dan hinggap pd bagian pohon yg lebih tinggi).

Betina umumnya suka hinggap pada area rendah, dan jantan (lebih sensitif bila dibanding betina) suka hinggap pada ketinggian diatas kepala manusia.


Ditemukan pada hutan/daerah dg cahaya matahari kurang/teduh di daerah Sumatera dan Kalimantan.


Adult Male

Bentuk ujung ekor adult male

Famale

Ujung ekor female

Vivian Maier dan porak-porandanya pikiran saya

Saya membaca mengenai Vivian Maier ketika mencari bahan bacaan tentang street photography. Awalnya google yang mengenalkan saya dengan blog Eric Kim, dan saya suka blog itu pake banget.

Banyak hal tentang fotografi yang bisa saya pelajari dari blog tersebut, terutama tentang street photography. Tertarik? Bisa langsung kesini ya...

Vivian Maier, adalah seorang sosialis, feminis, kritikus film dan a tell-it-like-it type of person. Perempuan ini berkenalan dengan fotografi tahun 1949. Pekerjaannya sebagai pengasuh anak (nanny).

Satu pelajaran yang paling berharga menurut Eric Kim di blognya tentang Vivian Maier adalah ambil gambar untuk dirimu sendiri. Ada empat point lagi yang tidak kalah menarik. Lebih jelasnya ada disini.

Maier tidak pernah menunjukkan hasil karyanya pada orang lain. Ia mengambil gambar hanya untuk dirinya sendiri. Hingga John Maloof menemukan hasil karyanya.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui motivasi dia mengambil gambar dengan genre street photography, ia tidak pernah memberitahukan pada siapapun.

Bahkan rekaman suaranya juga tidak ada. Ia benar-benar mengambil gambar untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Point pertama inilah yang banyak mengubah pandangan saya tentang fotografi. Saya kembali menanyakan pada diri, sebenarnya apa tujuan dasar saya menggeluti hobby ini?

Untuk kepuasanmu sendiri ataukah demi tepuk tangan riuh dari orang lain?

Cakil-cakil tiba-tiba bermunculan dan bertebaran di dalam pikiran saya. Riuh bertanya pada nurani saya.





Selasa, 31 Mei 2016

Naga terbang yang memukau

Perkenalan saya dengan capung membuat saya ingin terus belajar tentang serangga jaman purba ini. Ragam dan keindahannya memukau saya.

Saat saya kecil bila musim hujan drainase jalan (kalenan; dalam jawa) depan rumah orang tua saya terisi oleh air. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan kering saat kemarau.

Pada drainase yang letaknya di ujung jalan buntu, bagian dekat ladang sering terdapat capung jarum beragam warna.

Saya suka mengamatinya. Gerakan terbang mereka berputar, kadang maju atau mundur. Dan hinggap dengan anggunnya pada dedaunan.

Pada beberapa kebudayaan capung begitu dihargai. Bagi orang jepang capung, yang mereka sebut tombo adalah simbol keberanian. Simbol capung juga dapat ditemukan dalam samurai mereka.

Masyarat di pulau Kabena memandang capung dengan prespektif yang berbeda. Sebutan capung di daerah itu adalah Tasi'A.

Bagi mereka tasi'a akan selalu memberi informasi secara alami tentang vegetasi hutan; pergantian musim, kondisi air, dan kondisi lingkungan hutan.

Jika masyarakat Kabaena tidak melihat ada tasi'a yang hidup di suatu sungai maka masyarakat tidak akan mengkonsumsi air sungai tersebut karena berarti sungai itu tidak bersih. Lebih jelasnya bisa dibaca disini.

Saya mulai belajar mengidentifikasi capung. Biasanya mencari gambar yang mirip dari googling.

Bila menemukan jenis dan nama spesiesnya ada rasa bahagia. Menambah pengetahuan saya tentang habitat dan perilaku mereka, ternyata hal ini menyebabkan kecanduan serta meningkatnya rasa ingin tahu saya tentang spesies capung lainnya yang ada di Tarakan.

Akhirnya saya menemukan komunitas pecinta capung di sebuah group facebook, Banyak ilmu tentang capung yang bisa dipelajari disana. Bila Anda tertarik bisa saja langsung kesini saja.

Saya juga menemukan blog menarik yang mampu menambah pengetahuan saya tentang capung. Berisi tentang capung yang ada di Singapura; dengan foto-foto indah beserta informasi habitat, jenis kelamin dan nama spesiesnya. Langsung saja kesini dan dijamin tidak menyesal.

Beberapa buku tentang capung terbitan Indonesia sudah ada beberapa, meski tidak terlalu banyak. Salah satunya Naga Terbang dari Wendit yang diterbitkan oleh Indonesia Dragonfly Indonesia.

Saya memilikinya :)

Gambar milik mbak Magdalena Putri, saya ambil dari akun twitter @magda_putri



Capung-ers

Manusia dan segala kehidupannya selalu menarik untuk dijadikan objek foto. Lebih-lebih lagi dalam momen yang menyentuh. Namun saya memiliki resistensi tinggi, bawaan orok ... ha2x,  rasa malu, sungkan dan takut kena marah bila mengarahkan kamera ke orang yang tidak saya kenal.

Saya juga pernah baca bahwa salah satu faktor penting lainnya adalah mencairkan suasana dan mampu membaur dengan lingkungan yang akan diambil gambar. Lebih bagus lagi bila kehadiran kita tidak mengganggu dan tersamar.

Demi memperoleh kemampuan itu, salah satu latihan yang bagus adalah mengambil gambar serangga. Serangga yang relatif sensitif akan kehadiran manusia.

Proses mengambil gambarnya tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Apalagi bagi saya dengan compact kamera berzoom pendek.


Saya memilih mengambil gambar capung sebagai latihan. Capung adalah bagian dari ingatan masa lalu saya. Setelah dewasa serangga satu ini sudah saya jarang temui atau mungkin saya yang tidak peduli ... he3x.

Beruntung di Tarakan saya masih bisa menemukan capung. Seketika berhamburan ingatan tentang capung dalam benak saya. Hal yang merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya.


Mulailah saya menyusuri ingatan-ingatan lampau. Mulailah saya mengenal capung.







Melihat senja, melihat drama

Senja selalu menarik untuk dilihat. Saya tidak pernah bosan menikmatinya. Sinar matahari yang lembut dan kecondongan matahari membuat benda-benda tampak berisi dan lebih indah. Mungkin karena itulah digolongkan dalam kategori waktu golden hour.

Setelahnya juga masih waktu yang bagus untuk mengambil gambar, saat langit membiru sesaat setelah matahari lenyap (blue hour). Waktu yang satu ini jarang saya nikmati karena alasan personal.

Pelabuhan tengkayu 2 juga menarik dikunjungi kala menjelang senja. Biasanya ada kegiatan bongkar muat barang ke kapal. Dan unik menurut saya untuk diambil gambar.

Siluet yang tercipta cukup dramatis. 

Dalam hal ini kebiasaan saya menonton wayang kulit sejak kecil sepertinya banyak berpengaruh.

Dalam ingatan saya gerakan-gerakan yang tercipta dari cahaya blencong, kayon/layar dan ukiran halus kulit sapi yang disungging membentuk karakter itu seolah hidup.

Melompat dan bergerak di imaji saya diiringi alun mistik gamelan. Berkisah tentang satria dari negeri-negeri tua yang kerap didongengkan leluhur kami.

Kenangan itulah yang mungkin membuat saya menyukai siluet kala senja.







Senin, 30 Mei 2016

Dua cara memakan bubur ayam

Kadang geli juga kalau lihat seorang posted gambar original, no edit. Memang sih masalah edit dan non edit adalah pertarungan sengit dalam ranah fotografi.

Pro dan kontra bertebaran. Pihak yang pro mengatakan fotografi adalah soal kejujuran, apa yang kita foto adalah kondisi apa adanya.

Pihak yang kontra bilang fotografi adalah seni dan kreativitas yang tidak bisa dibatasi. Apa gunanya bila hasil foto apa adanya sama saja dengan foto dokumenter saja.

Ada pendapat bang Arbain Rambrey tentang edit dan non edit pada fotografi dengan perumpaan cara makan bubur ayam. Bila makan bubur ayamnya tanpa diaduk-aduk dulu, langsung dimakan berarti penganut paham non editing.

Sebaliknya bila cara makan bubur ayamnya diaduk-aduk dulu hingga rata tercampur dan baru dimakan berarti ia penganut paham editing.

Saya tidak senang makan bubur ayam jadi ... bukan dua-duanya. Ha3x.

Ndak deh ... jujur saya kebetulan penganut editing itu wajib. Meski tidak banyak kuasai juga teknik editing.

Sebenarnya, non editing memang harus diterapkan pada saat tertentu, misalnya dokumentasi acara, barang bukti, lomba yg mensyaratkan tidak boleh ada proses editing.

Editing diperlukan terutama oleh orang yang profesinya di bidang fotografi. Konyol rasanya bila pekerjaan utamanya berkaitan dengan fotografi tanpa menggunakan post editing process.

Jadi semua foto saya telah mengalami proses editing. Bahkan adik ipar saya bilang, saya sebenarnya lebih cocok jadi editor daripada fotografer.

Iya,lah... sapa bilang saya fotografer...ha3x.




Still Life

Awal berkenalan dengan still life secara tidak sengaja. Hasrat pingin hunting namun terhalang hujan.

Jadinya yah ... cari-cari objek yang bisa diisengin deh akhirnya. Melongok dapur mungkin ada yang bisa diambil gambar.

Melongok bagian belakang rumah yang biasanya tidak pernah dihiraukan. Sambil berpikir keras apa yang bisa dijadikan objek foto.

Perlu sedikit perhatian, melihat serta mengamati lebih dalam, agar mendapatkan keindahan tersembunyi dari sesuatu yang tampak biasa saja.

Trada ... akhirnya ketemu juga grendel pintu menuju halaman belakang. Saya bersyukur compact kamera saya keren mode macronya.

Meski harus sabar menunggu auto fokus macronya keluar dan harus dekat sekali dengan objek yang diambil gambar.







Still life ke-dua saat saya iseng memetik bunga kamboja dan mencoba bereksperimen di kamar. Selama ini saya banyak belajar dari gambar-gambar yang bersliweran di pixoto.

Mencoba mengatur sesuatu yang mirip-mirip majalah githu ... Meski saya tahu sangat lemah dalam hal tersebut. Apa salahnya saya coba.

Biasanya saya lebih suka mengambil gambar apa adanya yang telah diatur oleh alam.








Minggu, 29 Mei 2016

Melumpuhkan beruang dengan pisau

Guru saya lainnya dalam fotografi adalah bekas dosen favorit banyak mahasiswa di kampus saya dulu. Beliau adalah bapak dr. Rachmat Hargono, M.S., M.P.H.

Seorang dosen dan juga bapak pelindung bagi saya dan banyak mahasiswa kampus saya lainnya. Tanpa beliau mungkin skripsi saya tidak bakalan kelar ... he3x.

Beliau yang menyemangati saya untuk berkegiatan dan belajar berorganisasi. Mengenal masyarakat marginal dan pemberian pelayanan sosial. 


Beliau juga satu satunya yang mengerti bahwa saya itu berbeda. Saya jinchuuriki, punya kutukan mata byakugan dan rinnegan bersamaan...he3x. Lebay ... naruto made on.

Setelah kelar kuliah saya masih sering berbincang dengan beliau di facebook. Konsultasi tentang hasil gambar saya, meminta sebaiknya bagaimana tentang sudut pengambilan dan sesuatu yang tidak tepat.

Bahkan mendengarkan keluhan saya saat compact kamera yang zoomnya terbatas gagal menangkap bentuk matahari yang dramatis saat tenggelam.

Karena zoom yang terbatas dan saat itu, banyak kapal bersandar di pelabuhan menurut saya pengambilan gambar kurang bagus, banyak noise.

Beliau berkomentar, Great ... momentnya dapat. Saya jawab, andai dengan DLSR tentu lebih bagus hasilnya.

Beliau menjawab, justru kalo hanya pake pisau bisa melumpuhkan beruang, lebih baik daripada membunuh beruang dengan senapan. (06/05/2014, 17:59)


Kalimat ini yang selalu terngiang saat saya merasa kurang maksimal saat mengambil gambar menggunakan compact kamera. Saat saya tidak mensyukuri apa yang saya punya.



Saya dan Pixoto

Awal kenal pixoto.com seingat saya dari teman facebook yang sering dapat pemberitahuan bahwa hasil karyanya dapat award. Saya kemudian tertarik untuk mencoba.

Hal yang melintas pikiran saya saat itu adalah pixoto.com adalah situs internasional, ada duel antar foto anggotanya, ada contest ( pixoto photo contests dan community photo contest), awards buat foto terbaik harian, mingguan dan tahunan, yang utama adalah saya bisa belajar dari melihat foto yang bagus. bagaimana angle pengambilan gambarnya dan mengapa foto itu bisa bagus.

Bila di facebook teman saya terbatas, saya sengaja membatasi jumlah teman, sehingga saya pikir kurang akurat penilaian pada foto saya. Jadi saya mencoba masuk pixoto, dimana lebih beragam dan lebih banyak anggotanya, dari berbagai profesi dan negara.

Kalau tidak salah ingat tanggal 25 Maret 2014 saya bergabung dan posted gambar di pixoto. Akun saya di pixoto.com ada disini. Bila ingin tahu bisa dikunjungi, meskipun sekarang saya tidak aktif lagi post di pixoto :)

Pixoto mewarnai perjalanan saya dalam mengenal fotografi. Gambar-gambar di pixoto adalah guru saya secara tidak langsung. Pixoto pun turut andil menyemangati saya untuk berproses maju.

Terima kasih pixoto :)